Selamat datang, terima kasih atas kunjungannya. Salam perdamaian

10 RAHASIA DAN FILOSOFI ANGKA 0


Image result for angka nol
Di dunia ini terdata ada 10 angka yang telah diakui yaitu 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9. Tapi di balik itu semua terdapat sebuah angka yang sangat istimewa yaitu angka 0. Banyak yang terus memikirkan dan meneliti angka 0 tetapi masih sulit untuk mengungkap semua rahasia di balik angka 0. Dan tak jarang pemikiran angka 0 merupakan filosofi tentang hidup. Di sini kita akan mengungkap seluruh rahasia dan filosofi angka 0.1.     
  • Keberadaan angka 0. Misalkan angka 0 dijadikan sebagai konstanta dalam apel dan jeruk. Pada keadaan ini sebenarnya kejadian 0 apel dan 0 jeruk adalah suatu kejadian yang sama yaitu bahwa diatas meja tidak ada benda yang dimaksud. Jadi pernyataan 0 jeruk = 0 apel. Sehingga lambang bilangan 0 bersifat lebih netral dibanding bilangan yang lain. Inilah logika yang tertanam dalam benak kita bahwa lambang bilangan 0 mewakili sesuatu benda nyata yang tidak ada.

  • Dalam struktur angka, bilangan bulat terdiri dari {…-3,-2,-1,0,1,2,3…}, jika dilihat semua angka kecuali angka 0 pasti mempunyai nilai (+) dan (-) seperti angka 1 mempunyai nilai (+1) atau (1) dan (-1), tetapi mengapa angka 0 tidak memiliki tanda (+) dan (-) ?Filosofinya dari angka 0 ini kita dapat belajar tentang keseimbangan hidup dunia dan akhirat, tentang sesuatu yang telah terjadi dan yang akan datang, atau keseimbangan yang lainnya. Jika tanda (-) memiliki arti bahwa sesuatu yang telah terjadi dengan kehidupan di dunia, kita tidak boleh terlalu jauh menuju kenegatifan, atau terlalu terfokus apa yang telah terjadi. Tetapi kita juga perlu menyentuh makna (+), dengan apa saja yang akan kita lakukan yang belum terjadi serta kehidupan kita setelah mati nanti. Dan yang ingin kita dapatkan adalah seperti angka 0, yang seimbang di antara kenegatifan dan kepositifan.

  • Angka 0 dalam penjumlahan dan pengurangan, sebuah bilangan (positif maupun negatif) jika dijumlah atau dikurang dengan 0 maka nilainya tidak akan berubah. Dapat dikatakan bahwa kehadiran bilangan 0 pada penjumlahan dan pengurangan tidak mempunyai peran dan dapat diabaikan. Misalnya 5 + 0 = 5, -23 + 0 = -23, 12 - 0 = 12, -34 - 0 = -34. Filosofinya : sesuatu  yang tidak benar-benar ada  jika ditambahkan atau dihilangkan/dikurangkan dari apapun yang telah bernilai tak akan merubah nilai itu. Ini artinya adalah jika kita ingin diperhitungkan dalam sebuah komunitas, maka kita harus bernilai untuk komunitas itu.
  • Angka 0 dalam perkalian, sebuah bilangan (positif atau negatif) jika dikalikan dengan 0 akan menghasilkan 0. Misalnya 72 x 0 = 0, 0 x -56 = 0. Filosofinya : jika kita telah memiliki sesuatu yang bernilai dan ingin menggandakan nilainya hindarilah bertemu dengan sesuatu yang tidak bernilai, karena hanya akan menelan semua nilai yang ada menjadi tiada.
  • Angka 0 dalam pembagian, sebuah bilangan (positif atau negatif) jika dibagi dengan 0 maka hasilnya tidak dapat didefinisikan. Misalnya 5 : 0 = tidak terdefinisi. Disini peran angka 0 benar-benar mencapai titik  yang tidak terduga, dimana sebuah bilangan yang pada awalnya bernilai akan menghasilkan sesuatu yang tidak hanya tak benilai namun justru tak berarti (tidak didefinisikan).
  • Sifat penjumlahan dan perkalian angka yang sama. Jika dalam perhitungan penjumlahan suatu bilangan yang sama, akan menghasilkan bilangan yang lain untuk setiap bilangan kecuali 0. Ini merupakan salah satu beda 0 dengan yang lainnya.Contohnya, misal dengan penjumlahan :2     + 2     = 43     x 3     = 9-1    x (-1) = 1123 + 123 = 246Sehingga dari bilangan-bilangan di atas jika divariabelkan di dapat :x     + x     = ya      x a     = bTapi bagaimana dengan angka 0, jika 0 + 0 = 0, maka :x     + x     = x ?????a      x a     = a ?????Filosofinya dalam kehidupan sehari-hari adalah, tentang sosialisasi diri kita. Manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, jika kita tidak mempunyai sosialisasi dengan orang lain yang tidak dapat saling membantu, maka kita akan sia-sia. Kekurangan kita akan bisa tertutupi dengan orang yang bisa lebih atas kekurangan kita. Itulah butuhnya untuk saling melengkapi.
  • Sifat pengurangan angka yang sama. Setiap bilangan yang sama jika dikurangkan satu sama lain adalah 0.Contoh :9 – 9 = 05 – 5 = 0Begitu pun dengan 00 – 0 = 0Filosofinya, jangan meremehkan seseorang yang kita anggap tidak ada gunanya, karena kita merasa lebih terhadap lebih dari orang lain. Tetapi jika kita sering berpikir begitu, kitalah yang akan menjadi seseorang yang tak berguna itu, karena kelebihan kita belum tentu berguna bagi orang lain.
  • Sifat pembagian angka yang sama dan 0 pangkat 0. Setiap bilangan yang sama jika dibagi dengan angka itu sendiri pasti akan menghasilkan 1, kecuali 0, mengapa?Contoh :87 : 87 = 1999 : 999 = 1-3 : -3 = 1Jadi disimpulkan :x : x = 1Tetapi mengapa tidak berlaku dengan 00 : 0 = tak tentu, mengapa bukan 1?Karena untuk 0 x a = 0, untuk a setiap bilangan, maka 0 : 0 = a, untuk a setiap bilangan, maka 0 : 0 adalah tak tentu, ini juga sama halnya dengan 0 pangkat 0 dapat dijadikan dengan 0 : 0Penjelasan :0^0 = 0^1-1 = 0^1 x 0^-1 = 0^1 / 0^1 = 0 : 0Filosofinya bahwa kita perlu mempertimbangkan tujuan hidup kita, pusatkan dengan 1 hasil yang ingin didapat, dengan planing dan usaha yang seimbang. Jika tanpa adanya planing dan usaha, maka hasil tidak akan tercapai, itulah yang membuat tujuan hidup terkadang tak tentu.
  • Arti penting letak 0. Dalam sebuah bilangan asli, lambang bilangan 0 jika diletakkan pada sisi sebelah kanan (bukan terletak di urutan paling depan) maka akan mempunyai nilai sesuai letaknya, sedang jika diletakkan pada sisi paling kiri (urutan terdepan sebuah bilangan) lambang bilangan 0 tak mempunyai arti apapun. Misalnya kita mempunyai bilangan 999, jika pada sisi kanan kita tambahkan lambang bilangan 0 maka nilainya menjadi 9990, lambang bilangan 0 mempunyai arti/nilai. Namun jika kita letakkan di sisi paling kiri menjadi 0999, maka lambang bilangan 0 tak mempunyai arti/nilai. Filosofi yang dapat kita ambil adalah bahwa sesuatu yang tidak nyata-nyata ada, tidak akan bernilai apapun jika ditempatkan pada posisi paling depan. Yang berhak menempati posisi terdepan adalah mereka yang nyata-nyata mempunyai nilai. Jadi jika kita ingin mencapai posisi terdepan maka kita harus memiliki nilai.
  • Bilangan berpangkat 0 kecuali 0. Angka sebesar apapun kalau di pangkatkan ”0” pasti hasilnya ”1” berarti gak boleh ada angka yang sombong karena besarnya. 999.999.999 aja kalu dipangkatkan ” 0 ” tetep jadi 1.Filosofinya, kita janganlah sombong dengan pangkat yang dimiliki, walaupun pangkat kita setinggi-tingginya, apalagi pangkat tinggi tanpa memiliki kemampuan apapun alias 0.

Muhammad Sebagai Seorang Suami

Di antara tanda kasih sayang Allah swt terhadap manusia adalah diutusnya Rasul ditengah-tengah mereka. Inilah nikmat paling besar yang Allah swt karuniakan kepada manusia. Agar para Rasul menjadi penerang bagi orang-orang yang salah jalan. Menjadi penunjuk bagi orang-orang yang tersesat.
Image result for akhlak rasulullah sebagai suamiHal paling utama dan berharga yang dipersembahkan para Rasul kepada manusia setelah penunjukan jalan hidayah Allah swt. adalah mereka, para Rasul sebagai contoh teladan bagi yang meniti jalan menuju Allah swt, agar orang beriman mengambil apa yang mereka contohkan dalam segenap urusan dan bidang, fiddunya wal akhirah.
Allah swt berfirman tentang pribadi Nabi kita Muhammad saw.:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” Al Ahzab:21
Berkata Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini: “Inilah ayat mendasar yang berisikan anjuran menjadikan Rasulullah saw sebagai suri teladan, dalam ucapan, perbuatan dan keadannya.”
Dan bukti kemurahan Allah swt terhadap umat Islam ini adalah, bahwa sirah atau perjalanan hidup Nabi saw. baik berupa ucapan, perbuatan dan keadaannya direkam dan dijaga oleh para tokoh –ahli hadits- yang mukhlis. Dan mereka menyampaikan apa yang datang dari Rasul kepada orang lain dengan sangat amanah.
Contoh sederhana adalah tentang petunjuk Nabi bagaimana beliau makan, cara minum, berpakaian, berhias, bagaimana beliau tidur dan ketika terjaga, ketika beliau mukim atau sedang safar, ketika beliau tertawa atau menangis, dalam kesungguhan atau canda, dalam suasana ibadah atau hubungan sosial, perihal urusan agama atau dunia, ketika kondisi damai atau saat perang, dalam berinteraksi dengan kerabat atau orang yang jauh, menghadapi teman atau lawan, sampai pada sisi-sisi yang menurut orang bilang “intim” dalam hubungan suami-istri. Semuanya terekam, tercatat dan diriwayatkan dengan sahih dalam sirah perjalanan hidup beliau saw.
Dalam tulisan sederhana ini kami paparkan petunjuk Nabi saw. tentang bagaimana beliau berinteraksi dengan istri-istrinya. Bagaimana beliau bermu’amalah dan menjaga mereka. serta bagaimana beliau melaksanakan kewajibannya untuk memenuhi hak-hak mereka.
Muhammad Bersikap Adil
Nabi Muhammad saw. sangat memperhatikan perilaku adil terhadap istri-istrinya dalam segala hal, termasuk sesuatu yang remeh dan sepele. Beliau adil terhadap istri-istrinya dalam pemberian tempat tinggal, nafkah, pembagian bermalam, dan jadwal berkunjung. Beliau ketika bertandang ke salah satu rumah istrinya, setelah itu beliau berkunjung ke rumah istri-istri beliau yang lain.
Soal cinta, beliau lebih mencintai Aisyah dibanding istri-istri beliau yang lain, namun beliau tidak pernah membedakan Aisyah dengan yang lain selamanya. Meskipun di sisi lain, beliau beristighfar kepada Allah swt karena tidak bisa berlaku adil di dalam membagi cinta atau perasaan hati kepada istri-istrinya, karena persoalan yang satu ini adalah hak preogratif Allah swt. saja. Rasulullah saw. bersabda:
(اللهم إن هذا قسمي فيما أملك، فلا تلمني فيما لا أملك)
“Ya Allah, inilah pembagianku yang saya bisa. Maka jangan cela aku atas apa yang aku tidak kuasa.”
Ketika beliau dalam kondisi sakit yang menyebabkan maut menjemput, beliau meminta kepada istrinya yang lain agar diperkenankan berada di rumah Aisyah. Bahkan ketika beliau mengadakan perjalanan atau peperangan, beliau mengundi di antara istri-istrinya. Siapa yang kebagian undian, dialah yang menyertai Rasulullah saw.

Muhammad Bermusyawarah Dengan Para Istrinya
Rasulullah saw mengajak istri-istrinya bermusyawarah dalam banyak urusan. Beliau sangat menghargai pendapat-pendapat mereka. Padahal wanita pada masa jahiliyah, sebelum datangnya Islam diperlakukan seperti barang dagangan semata, dijual dan dibeli, tidak dianggap pendapatnya, meskipun itu berkaitan dengan urusan yang langsung dan khusus dengannya.
Islam datang mengangkat martabat wanita, bahwa mereka sejajar dengan laki-laki, kecuali hak qawamah atau kepemimpinan keluarga, berada ditangan laki-laki. Allah swt berfirman:
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Al Baqarah:228.
Adalah pendapat dari Ummu Salamah ra pada peristiwa Hudaibiyah, membawa berkah dan keselamatan bagi umat Islam. Ummu Salamah memberi masukan kepada Nabi agar keluar menemui para sahabat tanpa berbicara dengan siapa pun, langsung menyembelih hadyu atau seekor domba dan mencukur rambutnya. Ketika beliau melaksanakan hal itu, para sahabat dengan serta-merta menjalankan perintah Nabi saw, padahal sebelumnya mereka tidak mau melaksanakan perintah Rasul, karena mereka merasa pada pihak yang kalah pada peristiwa itu. Mereka melihat bahwa syarat yang diajukan kaum kafir Quraisy tidak menguntungkan kaum muslimin.

Muhammad Lapang Dada dan Penyayang
Istri-istri Rasulullah saw memberi masukan tentang suatu hal kepada Nabi, beliau menerima dan memberlakukan mereka dengan lembut. Beliau tidak pernah memukul salah seorang dari mereka sekali pun. Belum pernah terjadi demikian sebelum datangnya Islam. Perempuan sebelum Islam tidak punya hak bertanya, mendiskusikan dan memberi masukan apalagi menuntut.
Umar ra berkata:
“Saya marah terhadap istriku, ketika ia membantah pendapatku, saya tidak terima dia meluruskanku. Maka ia berkata; “Mengapa kamu tidak mau menerima pendapatku, demi Allah, bahwa istri-istri Rasulullah memberi pendapatnya kepada beliau, bahkan salah satu dari mereka ngambek dan tidak menyapanya sehari-semalam. Umar berkata; “Saya langsung bergegas menuju rumah Hafshah dan bertanya: “Apakah kamu memberi masukan kepada Rasulullah saw? ia menjawab: Ya. Umar bertanya lagi, “Apakah salah seorang di antara kalian ada yang ngambek dan tidak menegur Rasul selama sehari-semalam? Ia menjawab: Ya. Umar berkata: “Sungguh akan rugi orang yang melakukan demikian di antara kalian.”

Cara Nabi Meluruskan Keluarganya
Rasulullah saw tidak pernah menggap sepele kesalahan yang diperbuat oleh salah satu dari istri. Beliau pasti meluruskan dengan cara yang baik. Diriwayatkan dari Aisyah:
تقول عائشة رضي الله عنها: ما رأيت صانعة طعام مثل صفية صنعت لرسول الله طعاما وهو في بيتي، فارتعدت من شدة الغيرة فكسرت الإناء ثم ندمت فقلت: يا رسول الله ما كفارة ما صنعت؟ قال: إناء مثل إناء، وطعام مثل طعام.
“Saya tidak pernah melihat orang yang lebih baik di dalam membuatkan masakan, selain Shafiyah. Ia membuatkan hidangan untuk Rasulullah saw di rumahku. Seketika saya cemburu dan membanting piring beserta isinya.” Saya menyesal, seraya berkata kepada Rasulullah saw. “Apa kafarat atas perilaku yang saya lakukan?” Rasulullah saw menjawab: “Piring diganti piring, dan makanan diganti makanan.”
Rasulullah saw. menjadi pendengar yang baik. Beliau memberi kesempatan kepada istri-istrinya kebebasan untuk berbicara. Namun beliau tidak toleransi terhadap kesalahan sekecil apa pun. Aisyah berkata kepada Nabi setelah wafatnya Khadijah ra.:
“Kenapa kamu selalu mengenang seorang janda tua, padahal Allah telah memberi ganti kepadamu dengan yang lebih baik.” Maka Rasulullah saw marah, seraya berkata: “Sunggguh, demi Allah, Allah tidak memberi ganti kepadaku yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku ketika manusia mengingkariku. Ia menolongku ketika manusia memusuhiku. Saya dikaruniai anak darinya, yang tidak Allah berikan lewat selainnya.”

Muhammad Pelayan Bagi Keluarganya
Rasulullah saw tidak pernah meninggalkan khidmah atau pelayanan ketika di dalam rumah. Beliau selalu bermurah hati menolong istri-istrinya jika kondisi menuntut itu. Rasulullah saw bersabda:
وكان يقول: (خدمتك زوجتك صدقة)
“Pelayanan Anda untuk istri Anda adalah sedekah.”
Adalah Rasulullah saw mencuci pakaian, membersihkan sendal dan pekerjaan lainnya yang dibutuhkan oleh anggota keluarganya.

Muhammad Berhias Untuk Istrinya
Rasulullah saw mengetahu betul kebutuhan sorang wanita untuk berdandan di depan laki-lakinya, begitu juga laki-laki berdandan untuk istrinya. Adalah Rasulullah saw paling tampan, paling rapi di antara manusia lainnya. Beliau menyuruh sahabat-sahabatnya agar berhias untuk istri-istri mereka dan menjaga kebersihan dan kerapihan. Rasulullah saw bersabda:
وكان يقول: (اغسلوا ثيابكم وخذوا من شعوركم واستاكوا وتزينوا وتنظفوا فإن بني إسرائيل لم يكونوا يفعلون ذلك فزنت نساؤهم).
“Cucilah baju kalian. Sisirlah rambut kalian. Rapilah, berhiaslah, bersihkanlah diri kalian. Karena Bani Isra’il tidak melaksanakan hal demikian, sehingga wanita-wanita mereka berzina.”

Muhammad dan Canda-Ria
Rasulullah saw tidak tidak lupa bermain, bercanda-ria dengan istri-istri beliau, meskipun tanggungjawab dan beban berat di pundaknya. Karena rehat, canda akan menyegarkan suasan hati, menggemberakan jiwa, memperbaharui semangat dan mengembalikan fitalitas fisik.
فعن عائشة – رضي الله عنها- أنها قالت خرجنا مع رسول الله (صلى الله عليه وسلم) في سفر فنزلنا منزل فقال لها : تعالي حتى أُسابقك قالت: فسابقته فسبقته، وخرجت معه بعد ذلك في سفر آخر فنزلنا منزلا فقال: تعالي حتى أسابقك قالت: فسبقني، فضرب بين كتفي وقال : هذه بتلك).
Dari Aisyah ra berkata: “Kami keluar bersama Rasulullah saw dalam suatu safar. Kami turun di suatu tempat. Beliau memanggil saya dan berkata: “Ayo adu lari” Aisyah berkata: Kami berdua adu lari dan saya pemenangnya. Pada kesempatan safar yang lain, Rasulullah saw mengajak lomba lari. Aisyah berkata: “Pada kali ini beliau mengalahkanku. Maka Rasulullah saw bersabda: “Kemenangan ini untuk membalas kekalahan sebelumnya.” Allahu A’lam
Redaktur: Ardne (dakwatuna.com)

Akhlak Rasulullah Sebagai Qudwah Hasanah


    Image result for Tata Cara Mandi Junub Sesuai Tuntunan Rasulullah
  1. Pemurah dan suka menderma. Setiap hari baginda memastikan setiap dirham yang dimilikinya didermakan kepada fakir miskin. Malah baginda mencari rezeki sekadara keperluannya sahaja dan yang selebihnya diberikan kepada orang yang berhajat kerana Allah S.W.T.
  2. Beradab ketika makan. Apabila makanan sudah tersedia, baginda membaca doa yang bermaksud:Dengan nama Allah, wahai Tuhanku! Jadikanlah makanan ini suatu nikmat yang disyukuri sehingga kepada nikmat syurga.Baginda juga tidak suka memakan makanan yang panas kerana sabdanya dalam suatu hadis yang bermaksud: Sesungguhnya Allah tidak memberi kita makanan daripada api. Sejukkanlah makanan itu terlebih dahulu. Hadith tersebut jelas menunjukkan bahawa Rasulullah sentiasa mengamalkan adab-adab ketika makan yang sepatutnya diamalkan oleh orang-orang Muslim.Rasulullah juga menggunakan tangan kanan untuk menyuap makanan dan sentiasa memilih lauk yang terdekat dengannya terlebih dahulu. Makanan yang paling disukai oleh Rasulullah ialah daging dan buah qana dan minuman yang digemarinya ialah susu kambing. Baginda tidak suka memakan bahagian dalam kambing seperti buah pinggang, pundit air kencing dan daging keras yang tumbuh di bawah kulit kerana sakit. Baginda juga tidak mengambil bawang putih dan bawang besar kerana ia mendatangkan bau yang tidak menyenangkan. Walaupun begitu, baginda tidak pernah merasa jijik terhadap sesuatu makanan itu walaupun baginda tidak menyukainya.
  3. Aspek berpakaianNabi Muhammad s.a.w. suka memilih pakaian yang berwarna putih. Pakaiannya yang dikenali sebagai jubah menutupi sehingga paras buku lalinya. Baginda mempunyai dua salinan baju khusus untuk solat Jumaat dan pakaian-pakaian lain untuk hari lain. Baginda suka memakai kopiah dibawah ikatan serbannya. Setiap kali memakai pakaian baginda memulakannya dari kanan dan membaca doa yang bermaksud:Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian untuk menutup auratku dan untuk menghiaskan diri di hadapan orang ramai.Ketika menanggalkan pakaian baginda memulakan dari sebelah kiri.
  4. Tutur kataRasulullah s.a.w. seorang yang fasih dalam berkata-kata. Tutur katanya dihiasi dengan kata-kata yang manis dan bersopan. Ketika berbicara, baginda menggunakan ayat-ayat yang padat dan lengkap, ringkas dan mudah difahami oleh orang-orang yang mendengarnya. Baginda tidak bercakap jika dirasakan tidak perlu dan hanya meninggikan suara apabila menyatakan sesuatu yang hak dan benar sahaja.  Persoalan-persoalan yang dikemukakan pula dijawab dengan jawapan-jawapan dan nasihat yang mudah diterima para hadirin.
  5. Sifat berlapang dada dan pemaafBaginda Rasulullah s.a.w. juga memiliki sifat berlapang dada dan suka memaafkan orang lain walaupun diberi peluang untuk membalas dendam. Didalam suatu peperangan, seoreang tentera kaum musyrikin berjaya mengugut Rasulullah dan tentera kaum Muslimin dengan berkata: “Siapakah diantara kamu yang dapat menyelamatkan engkau daripada pedangku?”Lantas Rasulullah s.a.w. pun menjawab, “Allah”. Mendengar perkataan itu gentarlah tangan                tentera musyrikin itu dan pedang tersebut jatuh daripada tangannya.  Kemudian Rasulullah s.a.w. mengambil pedang tersebut sambil berkata,  “Siapakah kini yang dapat mempertahankan engkau daripadaku?   Orang musyrikin itu dengan susah payah menjawab,  “Ambillah nyawaku dengan cara yang baik.” Baginda pula berkata kepadanya,  “Katakanlah aku bersaksi tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah dan  aku (Rasulullah) adalah pesuruhnya.Inilah salah satu contoh sifat Rasulullah s.a.w.  yang sentiasa bersifat berlapang dada dan pemaaf.
  6. Kasih- sayangApabila dua atau tiga hari Rasulullah s.a.w. tidak nampak salah seorang sahabatnya atau tidak bertemu di mana-mana, nescaya ditanya dan dicari oleh baginda. Baginda yang menziarahi kerumah sahabat tersebut tanpa rasa sombong. Malah baginda sembahyang, makan dan duduk bersama para sahabat.Islam menggariskan hak-hak sesama seagama yang menunjukkan betapa tingginya nilai kasih sayang sesama mukmin sehingga Rasulullah s.a.w. pernah menggambarkan kehidupan orang-orang mukmin umpama jasad yang satu yang saling merasakan segala yang dirasai dan dideritai oleh saudara seislam.
  7. Ibadah Rasulullah menunjukkan contoh perlaksanaan ibadah sedemikian banyak untuk kita jejaki langkahnya kerana secara fitrahnya, Rasulullah menyukai pengabdian dan ibadah serta merasa senang melakukannya. Sebelum diangkat menjadi Rasul, pernah sehingga sebulan baginda memutuskan semua kesibukan untuk beribadat didalam sebuah gua di luar kota Mekah sehingga disebut para sahabat, baginda senang beribadat, mengabdi dan berkhalwat sejak dari kecil lagi. Begitulah orang-orang yang cerdik berkelakuan.Baginda bersolat sunat dengan begitu banyak sekali sehingga adakalanya baginda tidak tidur semalaman sehingga bengkak kakinya. Baginda turut berpuasa selang sehari dan berzikir diwaktu jaga dan tidur. Malah baginda digelar sebagai “Al-Qur’an bergerak” kerana Al-Qur’an bukan sahaja dihafal malah dijadikan panduan seluruh kehidupannya

********************************************************************
Dipetik daripada ... http://muthaqqafazhari.blogspot.com

Menjadi Hamba Allah 24 Jam

Image result for Tata Cara Mandi Junub Sesuai Tuntunan Rasulullah
Khutbah Pertama:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ ومُبلِّغُ النَّاسِ شَرْعَهُ، مَا تَرَكَ خَيْرًا إِلَّا دَلَّ الْأُمَّةَ عَلَيْهِ وَلَا شَرًّا إِلَّا حَذَّرَهَا مِنْهُ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ:
اَتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى؛ فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ، وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرِ أُمُوْرِ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ.
وَتَقْوَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا عَمَلٌ بِطَاعَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ، وَتَرْكٌ لِمَعْصِيَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ خِيْفَةَ عَذَابِ اللهِ .
Ibadallah,
Sungguh, Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan manusia untuk suatu tujuan yang mulia, yaitu untuk beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat/51:56).
Dalam ayat ini, Allah ‘Azza wa Jalla menuntut dua perkara dari kita. Pertama, beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan cara yang sesuai syariat-Nya. Kedua, tidak menyerahkan ibadah itu kepada selain-Nya.
Artinya, seorang mukmin harus menjadi hamba Allah ‘Azza wa Jalla selama hayatnya. Statusnya sebagai hamba Allah ‘Azza wa Jalla ini tidak boleh lepas darinya walaupun sesaat. Itulah tujuan kita diciptakan. Itulah status dan gelar tertinggi yang diraih seorang insan, yaitu menjadi hamba Allah ‘Azza wa Jalla yang sejati. Allah ‘Azza wa Jalla telah menyematkan gelar ini kepada hamba-Nya yang paling mulia, yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ
“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. al-Isra’/17:1)
Umur yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada kita ini adalah sebuah karunia dan anugerah yang tiada ternilai. Satu hari Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kita 24 jam. Itulah waktu yang harus kita pergunakan sebaik-baiknya agar menjadi hamba Allah yang sejati.
Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan sebuah wasiat yang sangat agung bagi kita, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ, وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ, وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ, وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ, وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Pergunakanlah yang lima sebelum datang yang lima (yaitu) masa mudamu sebelum datang masa tua; masa sehatmu sebelum datang masa sakit; masa kayamu sebelum datang masa miskin; masa luangmu sebelum datang masa sibuk; masa hidupmu sebelum datang kematian.” (HR. al-Hakim dan selainnya).
Ibadallah,
Sesungguhnya hidup adalah kumpulan hari-hari. Alangkah ruginya kita, bila terus dibuai angan-angan sehingga lupa memperbaiki diri. Mestinya, kita berpindah dari satu bentuk ibadah kepada bentuk ibadah lainnya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ﴿٧﴾ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” (al-Insyirah/94:7-8)
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Apabila engkau telah selesai mengerjakan suatu tugas maka bersiap-siaplah mengerjakan tugas yang lainnya, janganlah menyia-nyiakan kesempatan. Oleh karena itu, kehidupan orang yang cerdas adalah kehidupan yang penuh semangat. Setiap kali selesai mengerjakan satu tugas, ia bersiap mengerjakan tugas yang lain. Karena waktu akan terus berlalu, baik kita dalam keadaan terjaga maupun tidur, sibuk maupun lowong. Waktu terus berjalan, tidak ada seorang pun yang mampu menahannya. Sekiranya semua manusia bersatu padu untuk menahan matahari supaya waktu siang bertambah panjang niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya. Tidak ada seorang pun yang dapat menahan waktu. Karena itu, jadikanlah hidupmu hidup yang penuh semangat. Jika engkau selesai mengerjakan sebuah pekerjaan, lanjutkanlah dengan pekerjaan yang lainnya. Jika engkau selesai mengerjakan urusan dunia, hendaklah engkau melanjutkannya dengan mengerjakan urusan akhirat. Sebaliknya, jika engkau selesai mengerjakan urusan akhirat lanjutkanlah dengan urusan dunia. Apabila engkau telah selesai mengerjakan shalat Jumat, bertebarlah di muka bumi dan carilah karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalat Jumat diapit oleh dua urusan dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴿٩﴾فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang beriman, apabila kalian diseru untuk menunaikan shalat Jumat, (padahal engkau dalam keadaan sibuk mengurus urusan dunia) maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila shalat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah kepada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung. (Al-Jumu’ah/62:9-10)
Jika ada yang mengatakan, ‘Jika aku terus-menerus serius dan sungguh-sungguh setiap waktu, aku pasti letih dan bosan.” Jawabannya adalah istirahatmu untuk menyegarkan dirimu dan mengembalikan gairah kerja termasuk pekerjaan dan amalan. Maksudnya pekerjaan dan amalan itu tidak harus bergerak. Waktu istirahatmu untuk mengembalikan gairah kerja termasuk pekerjaan dan amalan. Yang paling penting adalah jadikanlah seluruh hidupmu dalam kesungguh-sungguhan dan amal. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ
“dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. al-Insyirah/94:8).
Maksudnya, apabila Anda selesai mengerjakan tugas-tugas lalu diikuti dengan pekerjaan yang lainnya maka berharaplah kepada Allah agar engkau mendapatkan pahala. Tetaplah memohon pertolongan kepada Allah, sebelum dan sesudah beramal. Sebelum beramal mintalah pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Dan setelah beramal, berharaplah pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Memanfaatkan waktu lebih berat daripada memperbaiki masa lalu dan masa depan. Memanfaatkan waktu berarti melakukan amal-amal paling utama, paling berguna bagi diri dan paling banyak membawa kebahagiaan. Dalam hal ini manusia terbagi menjadi beberapa tingkatan. Demi Allah, itulah kesempatanmu mengumpulkan bekal untuk menyongsong akhirat, ke surga ataukah ke neraka….”
Ibadallah,
Waktu terus berjalan, usia kita terus bertambah. Pertanyaannya adalah, sudahkah kita mengisi waktu itu sebaik-baiknya. Hari demi hari yang berlalu dan yang akan kita jalani ini, apakah sudah kita manfaatkan sebaik-baiknya seperti yang diwasiatkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Sungguh merugi, orang yang tidak mengisi harinya untuk menjadi hamba Allah yang sejati. Manusia seperti ini laksana mayat hidup yang berjalan, mati sebelum waktunya. Hidupnya tidak bermakna sama sekali!
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Merupakan hak Allah atas hamba-Nya di setiap waktu yang berlalu dalam hidupnya untuk menunaikan kewajiban ubudiyah yang ia persembahkan kepada Allah dan untuk mendekatkan dirinya kepada-Nya. Jika seorang hamba mengisi waktunya dengan ibadah yang wajib ia lakukan, maka ia akan maju menuju Allah. Sebaliknya, jika ia isi dengan mengikuti hawa nafsu, bersantai ria atau menganggur, ia akan mundur. Seorang hamba kalau tidak melangkah maju, ia pasti bergerak mundur. Tidak ada yang berhenti di tengah jalan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ
“(yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur.” (QS. al-Mudattsir/74:37).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَايِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا
“Setiap hari semua orang melanjutkan perjalanan hidupnya, keluar mempertaruhkan dirinya! Ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yang mencelakakanya!” (HR. Muslim).
Setiap insan melanjutkan perjalanannya, ada yang menjual dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan jannah untuk mereka.” (QS. at-Taubah/9:111).
Dan ada pula yang menjualnya kepada setan yang senantiasa mengintai.
Ibnul Qayyim rahimahullah melanjutkan, “Barangsiapa tidak mengisi waktunya untuk Allah dan dengan petunjuk Allah maka baginya mati lebih baik daripada hidup ! Apabila seorang hamba sedang mengerjakan shalat, maka ia hanya memperoleh bagian shalat yang ia lakukan dengan khusyuk. Ia tidak memperoleh bagian apapun dari hidupnya kecuali yang dijalaninya dengan petunjuk Allah dan ditujukannya semata-mata untuk Allah.”
Ibadallah,
Lalu, mampukah kita mengisi 24 jam yang Allah berikan ini untuk beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla? Jawabnya, kita mampu mengisinya dengan ibadah. Hal itu bila kita memaknai ibadah dengan maknanya yang luas. Yaitu segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla berupa ucapan maupun perbuatan, lahir maupun batin.
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membuka pintu-pintu kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada kita amal-amal kebaikan yang bisa mendekatkan diri kita kepada-Nya. Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّهُ لَيْسَ شَيْءٌ يُقَرِّبُكُمْ إِلَى الجَنَّةِ إِلاَّ قَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ وَ لَيْسَ شَيْءٌ يُقَرِّبُكُمْ إِلَى النَّارِ إِلاَّ قَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ
“Tidak satupun amal yang bisa mendekatkan kalian ke surga melainkan telah aku memerintahkannya kepada kalian. Dan tidak satupun amal yang bisa mendekatkan kalian ke neraka melainkan aku telah melarang kalian darinya.”(HR. al-Hakim).
Seandainya kita menerapkan sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya separuh hari kita terpakai untuk mengamalkannya. Dan hanya tersisa sedikit kesempatan saja untuk menganggur tanpa amal kebaikan.
Hanya saja, manusia sering ditimpa dua penyakit yang menghalanginya dari semua itu. Yaitu penyakit malas dan taswif (menunda-nunda amal). Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berlindung dari sifat malas ini. Salah satu doa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka dan siksa kubur.” (HR. Muslim).
Ibadallah,
Beberapa bentuk amal yang dapat kita lakukan sehari semalam diantaranya:
Pertama: Shalat fardhu lima kali sehari semalam. Ini merupakan rukun Islam yang kedua dan wajib dilakukan oleh setiap muslim yang baligh dan berakal. Kewajiban ini tidak gugur bagaimanapun keadaannya, kecuali wanita yang sedang haidh dan nifas.
Shalat wajib dikerjakan dengan berdiri, jika tidak bisa dengan berdiri, maka dilakukan sambil duduk, kalau tidak bisa duduk dikerjakan sambil berbaring, kalau tidak bisa juga maka dengan isyarat.
Kedua: Shalat-shalat sunnat rawatib yang mengiringi shalat fardhu.
Abdullah bin Syaqiq radhiyallahu anhu bercerita, “Aku bertanya kepada Aisyah radhiyallahu anha tentang shalat sunnat yang dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aisyah radhiyallahu anha menjawab, ‘Beliau shalat empat rakaat di rumahnya sebelum shalat zuhur. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar mengerjakan shalat berjamaah. Setelah itu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang ke rumah dan shalat empat rakaat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat maghrib berjamaah kemudian beliau pulang dan shalat dua rakaat. Kemudian beliau shalat isya berjamaah lalu pulang ke rumahku dan shalat dua rakaat. Beliau mengerjakan shalat malam sembilan rakaat termasuk shalat witir. Beliau mengerjakan shalat malam panjang sekali dengan berdiri dan kadang-kadang beliau kerjakan sambil duduk. Apabila beliau membaca surat dengan berdiri, maka beliau sebagaimana biasa. Namun bila beliau membaca surat sambil duduk, maka beliau rukuk dan sujud menyesuaikannya. Apabila fajar sudah menyingsing maka beliau shalat dua rakaat (shalat sunnat fajar).” (HR. Muslim).
Ketiga:. Shalat dhuha, termasuk di dalamnya shalat awwabiin yaitu shalat yang dilakukan di akhir waktu dhuha dan shalat isyraq yang dilakukan di awal waktu dhuha, yakni begitu matahari muncul.
Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى
“Pada setiap pagi, setiap sendi tubuh bani Adam harus bersedekah. Setiap tasbih bisa menjadi sedekah. Setiap tahmid bisa menjadi sedekah. Setiap tahlil bisa menjadi sedekah. Setiap takbir bisa menjadi sedekah. Setiap amar makruf nahi munkar juga bisa menjadi sedekah. Semua itu dapat digantikan dengan dua rakaat yang dilakukan pada waktu dhuha.” (HR. Muslim).
Keempat: Shalat malam. Banyak sekali hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan shalat malam, seperti hadits Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرْفَةً يُرَى ظَاهِرُهَا مِنْ بَاطِنِهَا وَبَاطِنُهَا مِنْ ظَاهِرِهَا أَعَدَّهَا اللَّهُ لِمَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَلَانَ الْكَلَامَ وَتَابَعَ الصِّيَامَ وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ
“Sesungguhnya di dalam surga tersedia kamar-kamar yang bagian dalamnya terlihat dari luar dan bagian luarnya terlihat dari dalam. Kamar-kamar itu Allah sediakan untuk orang-orang yang suka memberi makan, melembutkan tutur bicara, memperbanyak puasa, menebarkan salam dan mengerjakan shalat malam di kala manusia tertidur pulas.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan at-Tirmidzi).
Shalat malam ini dikerjakan dua rakaat-dua rakaat. Waktunya dari isya hingga terbit fajar.
Kelima: Shalat sunnat sesudah berwudhu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian shalat dua rakaat dan tidak berkata-kata dalam hati (yakni dikerjakan dengan khusyuk) selama mengerjakannya niscaya Allah akan mengampuni dosanya.” (HR. Bukhar dan Muslim).
Abu Hurairah radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal radhiyallahu anhu setelah shalat fajar, “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku amalanmu dalam Islam yang paling engkau harapkan kebaikannya. Karena sesungguhnya aku mendengar suara sandalmu di hadapanku dalam surga.” Bilal berkata, “Tidaklah aku mengamalkan suatu amalan yang lebih aku harapkan kebaikannya melainkan setiap kali aku wudhu pada malam atau siang hari aku selalu mengerjakan shalat (dua rakaat setelah wudhu) yang bisa aku lakukan.” (HR. Bukhar dan Muslim).
Keenam: Shalat taubat.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ رَجُلٍٍ يُذْنِبُ ذَنْباً ثُمَّ يَقُوْمُ فَيَتَطَهَّرُ ثُمَّ يُصَلِّي ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللهُ، إِلاَّ غَفَرَ اللهُ لَهُ
“Tidaklah seorang hamba melakukan perbuatan dosa kemudian dia berdiri, lalu berwudhu dan mengerjakan shalat, kemudian memohon ampun kepada Allah kecuali Allah akan mengampuninya.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud).
Ketujuh: Shalat witir sebelum idur.
Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, “Kekasihku (Rasululla) telah mewasiatkan kepadaku tiga perkara, aku tidak akan meninggalkannya sampai aku mati: Puasa tiga hari setiap bulan, shalat dhuha, dan mengerjakan shalat witir sebelum pergi tidur.” (HR. Bukhari).
Kesembilan: Menjaga wudhu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يُحَافِظُ عَلَى الوُضُوءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ
“Tidaklah seseorang yang menjaga wudhu kecuali dia orang mukmin.” (HR. Ibnu Majah).
Kesepuluh: Dzikir-dzikir sesudah shalat fardhu.
Kesebelas: Dzikir-dzikir mutlak.
Maksudnya adalah dzikir-dzikir yang boleh dibaca tanpa terikat tempat maupun waktu tertentu. Misalnya yang disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَكْثِرُوْا مِنْ شَهَادَةِ أَن لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ ، قَبْلَ أَنْ يُحَالَ بَيْنَكُمْ وَ بَيْنَهَا
“Perbanyaklah membaca syahadat la ilaha illallah sebelum sebelum kalian terhalang darinya.” (HR. Abu Ya’la).
Dan hadits:
لَأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ
“Aku mengucapkan SUBHANALLAH WAL HAMDULILLAH WA LA ILAHA ILLALLAH WALLAHU AKBAR, lebih aku sukai daripada terbitnya matahari.” (HR. Muslim).
Dan masih banyak lagi amal-amal lain yang dapat kita kerjakan sehari semalam.
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ، وَاسِعِ الجُوْدِ وَالفَضْلِ وَالاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ: اَتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى.
Ibadallah,
Merutinkan amalan-amalan yang telah khotib sebutkan pada khotbah pertama pasti akan mendatangkan keutamaan. Di antaranya, apabila kita jatuh sakit atau terhalang dari perbuatan tersebut karena bersafar misalnya, maka akan tetap ditulis pahala amal yang rutin kita kerjakan itu. Seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits.
إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا
“Apabila seorang hamba jatuh sakit atau tengah bersafar, niscaya Allah ‘Azza wa Jalla tetap menuliskan pahala baginya sebagaimana yang biasa dilakukannya pada waktu sehat dan mukim (tidak bersafar).” (HR. Bukhari).
Disamping itu, apabila kita berniat sungguh-sungguh untuk mengamalkannya akan tetapi terhalang dengan sesuatu yang tidak bisa kita hindari, maka niat ini akan tetap menghasilkan pahala. Misalnya, seseorang yang berniat sungguh-sungguh akan bangun malam untuk mengerjakan shalat tahajjud, lalu ia terkalahkan oleh tidurnya, maka ia tetap terhitung pahala baginya. Aisyah radhiyallahu anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنِ امْرِئٍ تَكُونُ لَهُ صَلَاةٌ بِلَيْلٍ فَغَلَبَهُ عَلَيْهَا نَوْمٌ إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَجْرَ صَلَاتِهِ وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ
“Tidaklah seseorang yang meniatkan shalat malam lalu terkalahkan oleh tidurnya (tertidur) melainkan Allah akan menuliskan baginya pahala shalat malam dan tidurnya itu menjadi sedekah atasnya.” (HR. an-Nasai dan Abu Dawud).
Abu Darda radhiyallahu anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَتَى فِرَاشَهُ وَهُوَ يَنْوِي أَنْ يَقُومَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ حَتَّى أَصْبَحَ كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Barangsiapa mendatangi pembaringannya dengan meniatkan bangun malam untuk mengerjakan shalat malam akan tetapi ia dikalahkan oleh kedua matanya (tertidur) hingga shubuh maka dituliskan baginya apa yang telah ia niatkan dan tidurnya menjadi sedekah baginya dari Rabbnya ‘Azza wa Jalla.” (HR. an-Nasai).
Oleh karena itu, tidur dan istirahat seorang mukmin juga bisa bernilai ibadah dan berpahala, apabila beristirahat dengan niat agar lebih bergairah dalam ibadah.
Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu dan Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu anhu bermudzakarah tentang amal-amal shalih.
Mu’adz radhiyallahu anhu berkata, “Hai Abdullah, bagaimanakah cara engkau membaca Alquran?”
Abu Musa radhiyallahu anhu menjawab, “Aku secara rutin membacanya setiap waktu.”
Abu Musa bertanya, “Lalu bagaimana cara engkau membacanya hai Mu’adz?”
Mu’adz menjawab, “Aku membacanya di awal malam lalu aku bangun sesudah aku menuntaskan bagian waktuku untuk tidur. Aku membaca apa yang Allah mudahkan bagiku. Aku mengharap pahala dari tidurku sebagaimana aku mengharap pahala dari saat aku terjaga.”
Maknanya, ia memohon pahala pada saat-saat senggang seperti ia memohon pahala pada saat-saat lelah beramal. Karena waktu senggang apabila digunakan untuk membantu meningkatkan gairah beribadah juga akan menghasilkan pahala.
Demikian pula amal-amal duniawi lainnya seperti makan dan minum, bisa bernilai ibadah dan pahala apabila diniatkan untuk membantu meningkatkan gairah beribadah.
Intinya, kesempatan untuk menjadi hamba Allah 24 jam sebenarnya terbuka lebar bagi setiap mukmin yang dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.
Mudah-mudahan Allah memberi kita taufik untuk mengisi hari-hari kita dengan cara yang terbaik. Dengan cara yang Dia cintai dan ridhai.
هَذَا وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا -رَعَاكُمُ اللهُ- عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾ [الأحزاب:٥٦] ، وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ؛ أَبِيْ بَكْرٍ الصِدِّيْقِ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِيْ الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الحُسْنَى وَصِفَاتِكَ العُلْيَا أَنْ تَنْصُرَ إِخْوَانَنَا المُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ وَعَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الدِّيْنَ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شُرُوْرِهِمْ، اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِي مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ، وَأَعِنْهُ عَلَى طَاعَتِكَ وَسَدِدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أُمُوْرِ المُسْلِمِيْنَ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ.
اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. رَبَّنَا إِنَّا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، سِرَّهُ وَعَلَّنَهُ.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ وَأَنْعَمَ عَلَى عَبْدِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
www.KhotbahJumat.com

Memanfaatkan Peluang di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Memanfaatkan Peluang di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan
Khutbah Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ وَفَّقَ بِرَحْمَتِهِ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ، فَعَرَفُوْا أَقْدَارَ مَوَاسِمِ الْخَيْرَاتِ، وَعَمَرُوْهَا بِالْإِكْثَارِ مِنَ الطَّاعَاتِ، وَخَذَلَ مَنَ شَاءَ بِحِكْمَتِهِ، فَعُمِيَتْ مِنْهُمْ القُلُوْبُ وَالْبَصَائِرُ، وَفَرَطُوْا فِي تِلْكَ المَوَاسِمِ، فَبَاءُوْا بِالْخَسَائِرِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ اللهَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اَلْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ اَلْقَاهَّرُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَقْوَمَ النَّاسِ بِطَاعَةِ رَبِّهِ فِي البَوَاطِنِ وَالظَّوَاهِرِ، فَصَلَّى اللهُ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً.
أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا النَّاسُ:

Kaumu muslimin rahimakumullah,
Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Sesungguhnya Allah Jalla wa ‘Ala, Dialah Yang Maha Pengampun. Allah Jalla wa ‘Ala menjadikan siang dan malam beriringan saling berganti bagi mereka yang mau mengingat dan bersyukur. Di kedua waktu itulah terdapat perbendaharaan beramal dan perjalanan ajal. Manusia mengisinya dengan amalan-amalan mereka di waktu-waktu tersebut. Mereka akan mendapati hasil dari amalan mereka kebaikan atau kejelekan.
يُنَبَّأُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ بَلِ الْإِنْسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ وَلَوْ أَلْقَى مَعَاذِيرَهُ
“Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” (QS. Al-Qiyamah: 13-15).
Kaum muslimin rahimakumullah,
Kita telah melewati sebagian besar dari hari-hari Ramadhan kita. sekarang kita telah memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Barangsiapa di antara kita yang mampu menunaikan hari-hari tersebut sesuai dengan keagungannya, maka tunaikanlah dengan sempurna. Pujilah Allah karena bertemu dengannya. Mintalah kepada-Nya agar menerima amalan di dalamnya.
Adapun bagi mereka yang menyia-nyiakannya, maka bertaubatlah kepada Allah. Karena pintu taubat itu terbuka. Hindarilah bermalas-malasan dan kemaksiatan sebelum datang dimana betis-betis terhimpit, ruh telah sampai di tenggorokan, dan sebelum jasad berserah menuju kubur. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَار
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai..” (QS. At-Tahrim: 8).
Kaum muslimin rahimakumullah,
Kita telah sampai pada 10 hari terakhir Ramadhan. Hari-hari yang begitu baik, penuh keberkahan, dan keutamaan. Isilah dengan ketaatan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Agung. Berpuasalah dengan sebaik-baik puasa di hari-hari tersebut. Binarkan malam-malamnya dengan cahaya shalat. Makmurkan siang dan malamnya dengan membaca Alquran, istighfar, dzikir, dan doa. Betapa banyak orang yang dianugerahi menjumpai 10 hari terakhir, namun mereka tidak mendapati apapun. Tidak ada tambahan amal ketaatan dan taubat, yang ada hanya kesia-siaan dan kemalasan. Dan kita sekaranga telah mendapatkannya dalam keadaan sehat, kuat, dan memiliki kemampuan.
Kaum muslimin rahimakumllah,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat memuliakan 10 hari terakhir Ramadhan. Beliau benar-benar member perhatian yang mendalam apabila masa itu tiba dengan bersungguh-sungguh dan memperbanyak ibadah di dalamnya. Beliau khususkan saat-saat tersebut untuk beri’tikaf di masjid, menyendiri beribadah dan bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau bersemangat mengisi malam lailatul qadr yang sanga agung kedudukannya. Allah Ta’ala berfirman,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 3-5).
Maknya adalah malam tersebut lebih baik dari pada kurang lebih 30.000 malam. Lebih baik dalam keberkahan, ganjaran pahala, rahmat, ampunan, pengkabulan doa, dan diterimanya amal.
Oleh karena itu, hendaknya kita bersungguh-sungguh dalam mengisinya, bersemangat di kesepuluh hari tersebut. Hidupkan malamnya dengan shalat, dzikir, dan doa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang shalat di malam lailatul qadr karena keimanan dan berharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Apabila masuk sepuluh hari terakhir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh. Beliau hidupkan malam-malamnya dengan ibadah kepada Rabbnya. Beliau melakukan kesungguhan yang sangat tersebut padahal telah diampuni segala dosa dan kesalahannya yang lalu maupun yang akan datang. Beliau melakukan hal itu, dan beliau lah orang yang paling bertakwa dan takut kepada Allah. Lalu bagaimana keadaannya dengan kita? yang banyak kekurangan dan banyak berdosa.
Karena itu, hendaknya kita bersungguh-sungguh dalam menjemput malam yang penuh kemuliaan tersebut. Mengisi malam-malam tersebut, menjemput keberkahan dan kebaikannya dengan menjaga shalat-shalat yang diwajibkan, memperbanyak shalat, bersedekah, menjaga puasa dari hal-hal yang mengurangi pahalanya, mengerjakan banyak ketaatan, menjauhi perbuatan dosa, menjauhi permusuhan, saling benci, dan dendam. Karena dendam adalah salah satu sebab seseorang diharamkan dari mendapatkan keutamaan lailatul qadr.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari keluar dari rumahnya untuk mengabarkan kepada sahabatnya tentang lailatul qadr. Lalu ada dua orang laki-laki muslim yang terlibat cekcok dan perselisihan, lalu keberkahan tersebut terangkat (sirna). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ القَدْرِ، فَتَلاَحَى فُلاَنٌ وَفُلاَنٌ، فَرُفِعَتْ وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ
“Aku keluar untuk mengabarkan kepada kalian (kapan terjadinya) lailatul qadr lalu si Fulan dan Fulan berselisih? Sudah diangkat, dan mudah-mudahan hal itu lebih baik untuk kalian.”
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْمَا سَمِعْتُمْ مِنَ الآيَاتِ وَالأَحَادِيْثِ وَالوَعْظِ وَالتَذْكِيْرِ، وَنَفَعْنَا بِهِ، وَأَسْتَغْفِرُهُ تَعَالَى لِي وَلَكُمْ، إِنَّهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ.
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ مَوَاسِمَ الْخَيْرَاتِ نَزَلاً لِعِبَادِهِ الأَبْرَارِ، وَهَيَّأَ لَهُمْ مِنْ أَصْنَافِ نِعَمِهِ وَكَرِمِهِ كُلِّ خَيْرٍ غَزِيْرٍ مِدْرَارٍ، وَجَعَلَهَا تَتَكَرَّرَ كُلَّ عَامٍ لِيُوَالِي عَلَى عِبَادِهِ اَلْفَضْلُ وَيُحِطُ عَنْهُمْ اَلذُّنُوْبَ وَالأَوْزَارَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ مُحَمَّدٍ المُصْطَفَى المُخْتَارِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ البَرَرَةِ الأَطْهَارِ.
أَمَّا بَعْدُ،:

Kaum muslimin rahimakumullah,
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6).
Amalkanlah apa yang telah diajarkan Allah kepada kita. bersungguh-sungguhlah dalam menjaga diri kita dan keluarga kita dari api neraka. Ketahui dan kajilah jalan-jalan yang bisa melindungi kita dari neraka. Pelajari hal-hal yang bisa mengangkat derajat kita di surga. Bersemangatlah dalam mengisi musim-musim kebaikan ini. Perbanyak amalan ketaatan di dalamnya, terutama di sepuluh terakhir bulan Ramadhan ini.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperhatikan keluarganya agar menghidupkan sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dari Aishyah radhiallahu ‘anha, ia berkata,
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila masuk sepuluh terakhir ramadhan, beliau menghidupkan malamnya dengan ibadah, beliau membangunkan para istrinya, bersungguh-sungguh ibadah dan mengencangkan ikatan sarungnya. (HR. Muslim).
Kaum muslimin rahimakumullah,
Mari kita tekadkan untuk menepikan semua kesibukan di waktu yang penuh berkah ini, terutama di malam-malam ganjil, yang kita harapkan malam itu adalah malam lailatul qadr. Kita sibukkan diri kita dengan menghadapkannya dengan ketaatan kepada Rabb kita Yang Maha Agung. Kita perbanyak doa, istighfar, meminta ampunan dan keridhaan-Nya dengan ikhlas, tertunduk, dan penuh dengan penghayatan. Mudah-mudahan Allah memberkahi waktu kita, memperbaiki keadaan kita, menambah ketaatan kita, menjadikan kita orang yang berbahagia di akhirat, orang yang tidak ada ketakutan dan kesedihan.
هذا وقد ثبت عن أم المؤمنين عائشة – رضي الله عنها – أنها قالت: (( يَا نَبِيَّ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ، مَا أَقُولُ؟ قَالَ: تَقُولِينَ: اللهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ، فَاعْفُ عَنِّي )).
Dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiallahu ‘anha, ia bertanya kepada Nabi,
يَا نَبِيَّ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ، مَا أَقُولُ؟ قَالَ: تَقُولِينَ: اللهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ، فَاعْفُ عَنِّي
“Wahai Nabi Allah, doa apakah yang harus aku baca jika aku mendapati lailatul qadr?” Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Engkau mengucapkan,
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Allahumma innaka ‘Afuwwun tuhibbul’afwa fa’fu anni.”
“Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku”.”
Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi mencintai pemaafan, maka maafkanlah kami. Ya Allah, berilah kami taufik untuk berdoa kepa-Mu di siang dan malam hari, kemudian karuniakanlah ijabah dari doa-doa tersebut.
Ya Allah, kabulkanlah doa kami dan terimalah ibadah kami. Maafkanlah kekurangan dan kesalahan kami. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan juga kedua orang tua kami, serta seluruh kaum muslimin, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ya Allah, terimalah puasa kami. Jadikanlah puasa tersebut amalan yang penuh keimanan dan berharap pahala dari-Mu sehingga Kami termasuk orang-orang yang Engkau ampuni kesalahan-kesalahan yang telah lalu.
Ya, Allah berkahilah umur kami. Amalan kami, waktu kami, dan keluarga kami.
Ya Allah, angkatlah musibah yang menimpa kaum muslimin, baik berupa bala’, bencana, kemiskinan, terusir dari kampungnya, kelemahan dan kekurangan, membunuh atau terbunuh, serta ketakutan.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ .
Diterjemahkan dari khotbah Jumat Syaikh Abdul Qadir al-Junaid
Oleh tim KhotbahJumat.com

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More