Selamat datang, terima kasih atas kunjungannya. Salam perdamaian

Royal Wedding Yogya

Sebelum Dinikahkan, GKR Bendara Ditanting Kembali Oleh Sri Sultan HB X



Sri Sultan Hamengku Buwono X menanyakan kembali ketetapan hati putrinya Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara sebelum dinikahkan. Prosesi tantingan ini dilakukan Sultan HB X sendiri di Emper Bangsal Prabayeksa Kraton Yogyakarta pada pukul 19.30 WIB. Sebab Sultan sendirilah yang akan menikahkan putri dengan KPH Yudanegara pada hari Selasa (18/10/2011) di Masjid Panepen, Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat.

Acara `tantingan` adalah pernyataan kesediaan dan kesiapan calon pengantin puteri yang dipersunting calon pengantin putera.

Dalam acara itu Sri Sultan HB X didampingi GKR Hemas. Sedangkan GKR Bendara didampingi tiga kakaknya GKR Pembayun, GKR Condro Kirono dan GKR Maduretno.

Sultan malam itu yang mengenakan baju surjan warna hijau, kuning dan hitam motif kembang-kembang serta kain dan blangkon motif truntum. Sedangkan GKR hemas mengenakan kebaya warna krem. Dalam prosesi itu juga dihadiri abdi dalem kaji (haji) atau penghulu/ulama kraton. Prosesi tantingan berjalan lebih kurang 20 menit.

"Anak ingsun Gusti Kanjeng Ratu Bendara, apa sliramu wis sumadya tak dhaupake karo abdi ingsun Kanjeng Pangeran Harya Yudanegara? (Anak saya Gusti Kanjeng Ratu Bendara, apakah kamu bersedia saya nikahkan dengan abdi saya Kanjeng Pangeran Harya Yudanegara?" tanya Sultan kepada putri bungsunya.

GKR Bendara kemudian menjawab, "inggih, (ya-red)".

Jawaban singkat yang menandakan kesiapannya GKR Bendara. Setelah itu abdi dalem penghulu kraton kemudian membacakan doa.

Proses ini sebagai kelengkapan administrasi untuk pernikahan.Pernyataan tersebut kemudian dicatat oleh petugas dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Keraton, Kota Yogyakarta yang didampingi penghulu kraton yang dipimpin KRT H. Dipodiningrat.

Selanjutnya GKR Bendara maju dihadapan Sultan dan melakukan sungkem di lutut kanan ayahandanya.
Usai tantingan, Sultan bersama permaisri GKR Hemas menuju Kesatriyan untuk menemui calon pengantin putra serta meninjau kesiapan acara akad nikah besok. Di Kesatriyan, KPH Yudanegara turut serata menemui Sultan dan GKR Hemas. Turut hadir adik-adik Sultan seperti KGPH Hadiwinoto, GBPH Prabukusumo.



GKR Bendara Sudah Mantab, Prosesi Tantingan Berjalan Cepat

GKR Bendara.
Prosesi tantingan GKR Bendara oleh Raja Ngayogyakarta, Sri Sultan HB X berlangsung lancar. Meski hanya sebagai formalitas untuk menanyakan kemantaban hati putrinya, namun prosesi tantingan pada Senin (17/10) malam ini tidak mengalami pengulangan.

Dalam prosesi tantingan ini, Sultan didampingi GKR Hemas dan GRaj Nur Abra Juwita di sebelah kiri serta GKR Pembayun, GKR Condrokirono, GKR Maduretno dan GKR Bendara berada di sisi kanan di emper Prabayeksa. Saat Sultan menanyakan kemantaban hati putri sulungnya untuk menikah, GKR Bendara pun langsung menjawabnya dengan singkat. "Sendika," jawabnya. Karena sudah tidak ada hal yang mengganjal, maka GKR Bendara langsung melakukan sungkem kepada Sultan disaksikan GKR Hemas dan seluruh putrinya.

Menurut kerabat kraton, GBPH Prabukusumo, prosesi tantingan ini hanya untuk menyakinkan kesiapan hati GKR Bendara yang akan menikah. "Prosesnya ya hanya itu. Kembali meminta kemantabannya saja untuk menikah. Dan tadi langsung dijawab mantab," jelasnya usai prosesi tantingan di emper Prabayeksa.

Usai menggelar prosesi tantingan, Sultan menuju bangsal Kasatriyan untuk melihat kesiapan. Di bangsal tersebut, Sultan juga menyambangi orang tua KPH Yudanegara untuk beramah tamah. Sedangkan prosesi terakhir yang digelar malam ini juga ialah midodareni.


GKR Bendara dan KPH Yudanegara Siraman Dengan Air Tujuh Sumber

GKR Bendara dan KPH Yudanegara. (Foto : Dok)

Rangkaian ritual pernikahan ageng Kraton Yogyakarta hari ini memasuki tahapan siraman kedua calon mempelai, Senin (17/10). GKR Bendara menjalani siraman Sekarkedhatonan, sementara KPH Yudanegara mengikuti presesi yang sama di Kasatriyan.

Dalam ritual siraman ini pihak Kraton telah menyiapkan air tujuh rupa yang diambil dari tujuh sumber di Kratom Yogyakarta. Tahapan prosesi ini memiliki makna agar kedua calon temanten bersih, baik secara lahir maupun batin dan semua hal yang buruk ditinggalkan. Upacara ini wajib dilakukan oleh pengantin sehari sebelum akad nikah.

"Siraman dari air tujuh sumber di Kraton ini melambangkan bahwa semua yang memiliki hajatan adalah Sultan dan semua yang di Kraton sudah mendapatkan restu. Tujuh sumber air menunjukkan tujuh shaf atau tingkatan langit termasuk Kraton yang juga memiliki tujuh shaf. Selain air tujuh sumber juga diberikan bunga siraman yang terdiri dari beberapa jenis bunga, seperti mawar, melati, kanthil dan kenanga," Koordinator Penyelenggara Prosesi Pernikahan, KRT Yudahadiningrat di Kraton Kilen, Senin (17/10).

Sebelumnya, GKR Pembayun yang merupakan kakak dari GKR Bendara mengutus adiknya GKR Maduretna yang didampingi oleh abdi dalem Sipat Bupati dan abdi dalem Keparak untuk mengambil air dari tujuh sumber, yakni air di Dalem Bangsal Sekarkedhaton, Dalem Regol Manikhantoyo, Dalem Bangsal Manis, Dalem Regol Gapura, Dalem Regol Kasatriyan, Dalem Kasatriyan Kilen dan terakhir di Gadri Kagungan Dalem Kasatriyan.

Pihak yang melakukan siraman berjumlah lima orang, yakni GKR Hemas, Hj. Nurbaiti Helmi (ibu pengantin pria), GBRAy Murdokusumo, BRA Puruboro dan Nyai Kangjeng Raden Penghulu Dipodiningrat.


Cincin Kawin Putri Keraton Tidak "Glamour

Budi Kurniawan
Pasangan calon pengantin KPH Yudanegara (Achmad Ubaidillah) dengan GKR Bendara (Jeng Reni).

Pernikahan rasanya belum lengkap tanpa cincin kawin. Cincin merupakan sebuah tanda cinta dan simbol pertalian dua hati yang saling berbagi dan melengkapi.

Begitu pun dalam pernikahan agung anak bungsu Sultan Hamengku Buwono X, GKR Bendara, dan KPH Yudanegara yang akan dilangsungkan pada 18 Oktober besok ini. Mereka juga sudah memiliki cincin kawin yang akan menjadi simbol kebahagiaan.

"Sebetulnya dalam adat perkawinan di kraton, tidak ada istilah tukar cincin. Maka pada upacara panggih kami tidak saling tukar cincin, melainkan nanti setelah menikah," ucap Jeng Reni, panggilan akrab GKR Bendara.

Kedua mempelai ternyata sudah 4 bulan yang lalu memesan cincin kawin di Toko Elegance Jewellery, kebetulan ownernya Lilis Hawati memiliki kedekatan dengan GKR Hemas. "Kita pesan cincin sama Tante Lilis, emas putih dengan desain simple," ucap Jeng Reni.

Lilis Hawati mengatakan memang kedua mempelai telah memesan cincin 4 bulan sebelum menikah. Dia mendeskripsikan bentuk cincin kawin mempelai. Yakni sepasang cincin emas putih dengan berat 15 gram. Alasan pengantin membeli emas putih, karena memang sedang tren. Menurut Lilis, desain cincin tak begitu glamour malah terkesan sederhana dengan model princess cut.

"Desain itu memang rundingan antara mempelai dan saya, dan memang belum pernah dipakai orang lain, desain yang elegan," ujar Lilis ketika ditemui usai prosesi siraman.

Cincin itu bertabur berlian 1 karat, dengan kualitas berlian terbaik F Colour dan very very slightly included (VVS) Clarity. Lilis mengatakan berliannya khusus disediakan dari Eropa, bahkan untuk kelas VVS Clarity F Colour itu merupakan tingkat kejernihan berlian yang tertinggi. Dengan harga berlian 1 karatnya, 300 dollar AS namun ada juga yang melepas dengan kisaran harga 5.000 dollar AS.

"Soal harga pastinya rahasia ya, tapi yang pasti saya pilihkan yang terbaik bagi mereka, kualitas yang memang nomer 1," ucapnya

Sumber :

Krjogja.com, detik.com, Kompas.com,


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More