Selamat datang, terima kasih atas kunjungannya. Salam perdamaian

Kisah - Keteguhan Hati Seorang Ayah


Suatu ketika, ada seorang anak wanita yang tidak sengaja melihat ayahnya sedang mengusap wajahnya yang terlihat mulai berkerut-merut, dengan badan yang dahulu kekar kini sudah terbungkuk-bungkuk dan disertai suara batuk-batuk. Anak wanita itupun bertanya pada ayahnya yang sembari santai sehabis pulang dari tempat kerja:
" Ayah, mengapa wajah ayah kian mengkerut-merut dengan badan ayah yang kian hari kian terbungkuk? "

Dengan nada lembut dan tersenyum, ayahnya hanya menjawab:
" Sebab Aku Laki-laki, Nak..!! "

Anak wanita itupun tercenung dan melamun menjadi bingung dengan jawaban ayahnya, lalu anak wanita itu berguman: " Aku tidak mengerti maksud ayah! "

Dengan kerut-kening mendengar jawaban ayahnya yang penuh dengan rasa penasaran, ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu dan menepuk-nepuk bahunya, kemudian ayahnya mengatakan : " Anakku, kamu memang belum mengerti tentang laki-laki " mengharapkan jawaban, tetapi malah membuat anak wanita itu semakin kebingungan.

Karena sudah penuh rasa penasaran dengan jawaban ayahnya yang membingungkan, anak wanita itupun menghampiri ibunya dan bertanya: " Ibu, mengapa wajah ayah menjadi mengkerut-merut dan badannya kian terbungkuk?, Tetapi ayah tidak pernah mengeluhkan rasa sakit! "

Ibunya menjawab: "Anakku sayang!, jika seorang laki-laki yang benar-benar bertanggung jawab terhadap keluarga, hal itu memang akan demikian "

Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, namun dia tetap saja masih dipenuhi oleh rasa penasaran dengan pertanyaannya yang belum terjawab. Hingga pada suatu malam, Anak wanita itu bermimpi, seolah-olah dalam mimpinya dia mendengar suara yang lembut namun sangat jelas terdengar, dan ternyata suara itu adalah suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban dari rasa penasarannya selama ini, lalu kalimat apa yang terdengar dalam mimpi anak wanita itu?

Inilah rangkaian kalimat dalam mimpi anak wanita itu:

  • Saat seoarang ayah hadir ke dunia ini, bersamaan dengan itu kuciptakan bahunya yang kekar dengan otot-otot yang kuat untuk dapat membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya, dan kuciptakan pula kegagahannya agar cukup kuat pula dalam melindungi keluarganya.
  • Kuberikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari rizeki dan sesuap nasi yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun tatkala seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya.
  • Kuberikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, walaupun tatkala dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari demi keluarganya, demi keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan hembusan angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras hanya demi keluarganya, dan dia tidak pernah lupa sedikitpun kalau disana ada yang menanti kedatangannya yang mengharapkan hasil dari jerih payahnya.
  • Kuberikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang dalam kondisi dan situasi apapun demi mencintai dan mengasihi keluarganya, walau terkadang anak-anaknya melukai perasaan dan hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap, serta dengan sentuhan perasaannya itu pula yang memberikan kenyamanan agar anak-anaknya selalu menyayangi dan mengasihi sesama saudara.
  • Kuberikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti bahwa laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya bisa hidup dalam keluarga yang bahagia, dan badannya yang terbungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggung jawab kepada seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga, segenap perasaannya serta keuletannya hanya demi kelangsungan hidup keluarganya.
  • Dan saat kuciptakan laki-laki, bersamaan dengan itu aku sudah membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dan dia akan senantiasa menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa AMAN, DAMAI, TEDUH dan TERLINDUNGI dari berbagai musibah apapun yang datang menerpa.

Lalu terbangun anak wanita itu dan dia terus berlari mengambil air wudhu, berlutut dan berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dengan rasa bersalah akan beban kesalahan yang mungkin pernah ia lontarkan pada ayahnya, anak wanita itu menghampiri kamar ayahnya, dan melihat ayahnya sedang sholat dan berdoa. Ketika ayahnya berdiri selesai sholat, anak wanita itu merunduk dan mencium tangan ayahnya dan berkata: " Aku sudah mendengar, mengerti dan merasakan bebanmu ayah! ", yang kemudian memeluk ayahnya.
Berbahagialah Yang Masih Memiliki Ayah Dan Lakukanlah Yang Terbaik Untuknya Saat Ini dan Selamanya...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More