Selamat datang, terima kasih atas kunjungannya. Salam perdamaian

10 Manfaat Menyusui Bagi bayi Dan Ibu


Banyak manfaat menyusui yang telah terbukti kebenarannya. Berikut adalah beberapa manfaat menyusui bagi bayi dan ibu.

1. Bayi mendapatkan nutrisi terbaik. Air susu setiap spesies makhluk hidup yang menyusui itu berbeda-beda sesuai dengan laju pertumbuhan dan kebiasaan menyusu anaknya. Jadi, ASI memang dirancang sedemikan rupa untuk bayi manusia. Melalui proses menyusui, bayi akan mendapatkan ASI sebagai nutrisis terbaik yang dibutuhkannya karena ASI memenuhi komposisi nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan bayi.

Dibanding dengan susu formula, ASI mengandung kebutuhan nutrien yang lebih lengkap dengan kualitas, kuantitas, dan komposisi ideal untuk pertumbuhan, kesehatan, dan kecerdasan bayi.

ASI mengandung protein khusus, yaitu taurin yang dapat membuat pertumbuhan sel otak menjadi lebih optimal. Dari semua jenis nutrisi yang terkandung dalam ASI, yang terbesar adalah lemak (50%). Ada 200 jenis lemak yang terkandung dalam ASI, walaupun demikian hanya ada dua jenis asam lemak utama yang memberikan kontribusi 90-95% dari total lemak ASI. Dua asam lemak utama tersebut adalah asam lemak omega-3 dan asam lemak omega-6 yang keduanya tergolong sebagai LC-PUFA (Long Chain PolyUnsaturated Fatty Acid atau asam lemak rantai panjang tak jenuh ganda).

2. Meningkatkan daya tahan tubuh bayi. Bayi di dalam rahim, secara alami mendapat zat kekebalan tubuh dari ibunya melalui tali plasenta, tetapi zat kekebalan ini akan cepat menurun setelah lahir. Sementara itu, kemampuan bayi untuk membuat pertahanan tubuhnya sendiri masih lemah. Kesenjangan ini bisa diatasi bila bayi mendapatkan ASI.

ASI di hari-hari pertama mengandung colostrum yang hampir tidak ditemukan dalam susu formula. Colostrum adalah zat antibodi aktif yang sangat diperlukan untuk daya tahan tubuh.

3. Meningkatkan kecerdasan anak. Perkembangan kecerdasan berkaitan erat dengan pertumbuhan otak. Faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan otak bayi dan anak adalah nutrisi atau gizi yang diterimanya.

ASI yang didapat bayi selama proses menyusui akan memenuhi kebutuhan nutrisi bayi sehingga dapat menunjang perkembangan kognitifnya. Perkembangan otak paling pesat terjadi pada usia 0 - 2 atau 3 tahun, dimana volume otak akan mencapai 80%. Karenanya, pemberian ASI sangat dibutuhkan pada masa ini. Walaupun otak telah mengalami perkembangan yang pesat pada masa ini, bukan berarti bahwa perkembangan otak berhenti sampai disitu saja. Volume otak akan terus berkembang hingga usia 12 tahun.

Nutrisi terbaik bagi bayi untuk perkembangan otaknya adalah ASI yang di dalamnya terkandung LC-PUFA. Dua jenis LC-PUFA yang sangat dibutuhkan bayi untuk perkembangan otaknya adalah DHA (asam dokosaheksanoat) sebagai salah satu jenis asam lemak omega-3 dan AA (asam arakhidonat) sebagai salah satu jenis asam lemak omega-6.

Pada saat lahir dan masa awal kehidupan telah dihasilkan kurang lebih 6-10 ribu hubungan sinaps antar sel syaraf. Materi dasar untuk terbentuknya sinaps ini adalah adanya asam lemak esensial (asam linoleat dan asam linolenat) di dalam ASI sebagai prekursor dalam sintesa AA dan DHA. Oleh karena itu, perkembangan mental dan kecerdasan bergantung pada kecukupan suplai asam lemak esensial dan LCPUFA pada tahap-tahap krusial tersebut.

Kadar DHA di dalam ASI yang sesuai dengan kebutuhan tubuh bayi, juga memungkinkan proses plastisitas (proses pembentukan hubungan baru di antara sel-sel saraf) berjalan dengan optimal. Hal ini antara lain ditunjukkan dengan kecerdasan berbahasa yang baik serta IQ (Intelegence Quotient) yang tinggi.

4. Dasar perkembangan kepribadian anak. Menyusui bayi akan memperkuat ikatan batin ibu-anak. Rasa aman dalam diri bayi akan tumbuh saat ia berada dalam dekapan ibunya. Ia menikmati sentuhan kulit yang lembut dan mendengar bunyi jantung sang ibu seperti yang telah dikenalnya selama dalam kehamilan. Kondisi tersebut merupakan dasar bagi perkembangan emosi yang hangat pada diri anak. Melalui proses menyusui, anak akan belajar berbagi dan memberikan kasih sayang pada orang-orang di sekitarnya.

5. Mencegah perdarahan pasca persalinan dan mempercepat kembalinya rahim ke bentuk semula. Saat bayi menghisap puting susu ibu, kelenjar pituitary akan terstimulasi untuk meningkatkan produksi hormon oksitosin guna merangsang kontraksi otot-otot di saluran ASI sehingga ASI terpancar keluar. Hormon oksitosin juga akan merangsang kontraksi otot polos rahim berikut pembuluh darahnya. Efek ini akan bekerja maksimal jika setelah persalinan, ibu langsung menyusui bayinya. Dengan begitu, penyempitan pembuluh darah yang terbuka saat persalinan bisa dipercepat. Hal ini jelas berdampak positif, karena perdarahan di rahim akibat persalinan akan cepat terhenti. Otot-otot rahim yang mengkerut secara otomatis akan menyebabkan pembuluh darah yang terbuka menjadi terjepit sehingga perdarahan akan segera terhenti.

6. Mencegah anemia defisiensi zat besi. Bila perdarahan pasca persalinan tidak terjadi atau berhenti lebih cepat, maka risiko kekurangan darah yang menyebabkan anemia pada ibu akan berkurang. Berhentinya pendarahan setelah persalinan akan mengurangi terjadinya resiko kematian dan kekurangan darah yang menyebabkan anemia pada ibu.

7. Mempercepat ibu kembali ke berat badan sebelum hamil. Dengan menyusui, cadangan lemak dalam tubuh ibu yang memang disiapkan sebagai sumber energi selama kehamilan akan digunakan sebagai energi pembentuk ASI. Akibatnya, cadangan lemak tersebut akan menyusut, sehingga penurunan berat badan ibu pun akan terjadi lebih cepat.

8. Menunda kesuburan. Manfaat lain dari pemberian ASI secara eksklusif adalah sebagai alat kontrasepsi alamiah yang dapat mencegah kehamilan. Kemungkinan untuk mencegah kehamilan bisa mencapai 99%. Namun, ada tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu bayi belum diberi makanan lain, bayi belum berusia enam bulan, dan ibu belum mengalami menstruasi.

9. Menimbulkan perasaan dibutuhkan. Rasa bangga dan bahagia karena dapat memberikan sesuatu dari dirinya demi kebaikan bayinya (menyusui bayinya) akan memperkuat hubungan batin antara ibu dan bayinya.

10. Mengurangi kemungkinan kanker payudara dan ovarium. Penelitian membuktikan bahwa ibu yang memberikan ASI secara eksklusif memiliki risiko terkena kanker payudara dan kanker ovarium 25% lebih kecil bila dibandingkan ibu yang tidak menyusui secara eksklusif.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More