Selamat datang, terima kasih atas kunjungannya. Salam perdamaian

Khutbah Wukuf 1435 H: Muhasabah Mengenal Jati Diri Meraih Ampunan Allah SWT

اَلْحِمْدُ ِللهِ الَّذِيْ نَوَّرَقُلُوْبَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِالْمَعْرِفَـةِ فَاطْمَنَّتْ قُلُوْبُهُمْ بِالتَّوْحِيدِ,اَشْهَـدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْـدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ يَعْلَمُ مَافِيْ اسَّمَوَتِ وَمَافِيْ الاْرْضِ وَهُوَالرَّقِيْبُ الْمَجِيْدُ, وَاَشْهَدُاَنَّ مُحَمَّدًاَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ اَنَارَالْوُجُوْدَبِنُوْرِدِيْنِهِ اِلَى يَوْمِ الْوَعِيْدِ.اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَــلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُــولِكَ مُحَمَّدٍوَّعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّابَعْدُ, فَيَا أَيُّهَاالْمُسْلِمُوْنَ ! أُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
Jamaah yang berbahagia, alhamdulillah pada siang yang cerah dan penuh hikmah ini kita berkumpul di Arafah yang Allah muliakan untuk kita sebagai tamu-Nya. Kita menjadi bahagian dari barisan jutaan hamba dalam posisi duduk bersimpuh, kita mengabdikan segala potensi yang kita miliki, menyerahkan segala eksistensi diri kita yang fana ini, semuanya untuk mengharap ridlo Allah azza wa jalla. Pada saat ini kita bersyukur kepada Allah, karena pertemuan raksasa hari ini semata-mata anugerah-Nya, seraya kita berharap semoga Allah menerima kehadiran kita di tempat ini serta menerima semua amal ibadah kita.Semoga hari ini Allah menerima taubat kita, dan kita betul-betul kembali kepada kesucian terbebas dari segala dosa, kembali menjadi manusia bersih tanpa noda apapun seperti kita lahir dari ibu kita masing-masing.
Di padang yang luas ini kita hendaklah menemukan ma’rifah pengetahuan sejati tentang jati diri kita. Dan di sini pula kita menyadari tentang langkah-langkah yang telah kita tempuh selama ini.
Dengan mendekat (taqarrub) kepada Allah, maka manusia akan mengenal Allah. Dan dengan mengenal Allah, manuasia akan mengenal dirinya sendiri. Selama ini mungkin kita sudah sulit mengenali diri kita sendiri, karena begitu banyaknya topeng-topeng yang telah menutupi wajah kita. Topeng jabatan, topeng politik, topeng status sosial, dan topeng-topeng lainnya yang makin menjadikan kita tidak mengenali wajah asli kita, dan kita terjebak pada sifat angkuh, sombong dan egois.
Topeng-topeng keduniaan yang fana ini telah menjadikan manusia masuk ke dalam masa-masa yang penuh tipu daya, sebagaimana diisyaratkan oleh Rasulullah saw dari Abu Hurairah ra :
إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ
“Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Para pendusta dipercaya sedangkan orang jujur dianggap berdusta. Penghianat diberi amanah sedangkan orang yang amanat dituduh khianat. Dan pada saat itu, para Ruwaibidhah mulai angkat bicara. Ada yang bertanya, ‘Siapa itu Ruwaibidhah?’ Beliau menjawab, ‘Orang dungu yang berbicara tentang urusan orang banyak (umat).” (HR. Ahmad)
Saat inilah topeng-topeng itu terbuka, dan kita mengenali jati diri kita sebenarnya. Selanjutnya kita hanya mengenal Allah Dzat Yang Maha Agung yang menjadi jalan dan tujuan hidup kita.
لَبَّيْكَ اَللَّهُمَّ لَبَّيْكَ, لَبَّيْكَ لاَشَـرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ, إِنَّ الْحَمْدَوَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَشَـرِيْكَ لَكَ
Ya Allah, kami ikhlas datang memenuhi panggilan-Mu, kami ridho berkumpul dan duduk bersimpuh di atas hamparan padang Arafah ini. Kami bahagia Ya Rab dengan segala kesederhanaan ini, kami bangga melepas segala atribut kesombongan kami, agar kami biasa merasakan keluh-kesah saudara-saudara kami yang banyak susah. Karena itu, hantarkan kami Ya Allah untuk menjadi hamba-Mu yang tulus dan pasrah untuk memenuhi panggilanMu.
Bebaskan kami dari segala kesombongan dan ketakaburan hanya karena derajat semu yang sering kami bangga-banggakan. Gantikan pada hari ini Ya Rab segala kepalsuan dengan ampunan yang Engkau berikan kepada kami.
لَبَّيْكَ اَللَّهُمَّ لَبَّيْكَ
Di atas padang Arafah ini, di bawah panasnya cahaya matahari kembali terbayang isyarat Rasulullah saw tentang padang mahsyar yang tak seorangpun dapat menghindarinya setelah kita bangkit dari barzah. Kita akan berkumpul di mahsyar. Jika pada hari ini kita bisa bersabar bertahan menjadi penghuni di padang tandus ini, semoga Allah menguatkan kita kelak ketika kita berbaris menghadap-Nya di padang Mahsyar. Kita akan bertemu ketika mulut tidak lagi sanggup berbicara, hanya tangan dan kaki yang lantang memberikan kesaksian.
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Pada hari (kiamat) ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka, dan memberi kesaksian kaki mereka, terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” – (QS.36:65)
Itulah yaumul hisab, hari dihitungnya amal-amal perbuatan kita, hari pengadilan, hari penyesalan dan hari dibukanya semua aib manusia.
لَبَّيْكَ اَللَّهُمَّ لَبَّيْكَ, لَبَّيْكَ لاَشَـرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ
Kesanggupan kita untuk memenuhi panggilan Allah untuk menghadiri pertemuan raksasa di Arafah saat ini bukan tanpa beban. Sebab kepergian kita ke tanah suci ini kita meninggalkan keluarga, saudara, masyarakat, dan bahkan meninggalkan bangsa yang tengah diliputi oleh kerisauan di tengah hiruk pikuk suasana sosial politik yang nyaris tak pernah berhenti melilit nasib dan menguras energi dan tenaga bangsa kita.
Kepergian kita bukan untuk menghindari berbagai kegaduhan yang melelahkan itu. Tidak sama sekali. Kita tidak berniat untuk lari dari situasi itu, justru sebaliknya kepergiaan kita di tempat ini untuk mengadukan nasib bangsa kita itu kepada Allah Yang Maha Penyayang, dengan harapan semoga Allah berkenan memberikan pertolongan, perlindungan untuk keselamatan bangsa dan negara kita.
Di tempat ijabah Padang Arafah ini kita memohon kehadirat Allah, kiranya Allah terus tetap mencurahkan kasih sayang dan perlindungaNya agar momentum-momentum politik yang melibatkan bangsa kita di beberapa hari mendatang tetap memberikan hikmah dan manfaat dan tidak melahirkan madharat dan mafsadat yang dapat menyengsarakan bangsa. Semoga Allah SWT dapat mentakdirkan lahirnya pemimpin-pemimpin bangsa yang dapat menyelamatkan aqidah dan akhlak, pemimpin-pemimpin yang dapat memakmurkan dan mensejahterakan kehidupan masyarakat bangsa dan negara, pemimpin-pemimpin yang mencintai rakyat agar rakyatpun mencintai mereka.
Kini pada hari yang agung ini, di atas panggung Padang Arafah dalam kenetralan suasana batin, mari kita lakukan evaluasi dan mawas diri apakah keikutsertaan kita dalam setiap tahapan demokrasi dapat membuahkan hikmah dan manfaat bagi umat atau malah memudzirkan setiap energi yang kita keluarkan karena tidak dapat membuahkan hikmah dan manfaat bagi umat.
Di tengah teriknya matahari di atas punggung Arafah ini, marilah kita telanjangi jiwa kita, apakah keterlibatan kita dalam menentukan pemimpin baik legislatif maupun ekskutif karena ketulusan, ataukah terdorong oleh emosi, ambisi pribadi atau ambisi kekuasaan yang melahirkan hiruk-pikuk kegaduhan di tengah masyarakat.
Kepemimpinan adalah keputusan Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Kepemimpinan dan jabatan tidak selalu identik dengan kemuliaan. Banyak orang yang memperoleh kekuasaan dan jabatan tetapi tidak memperoleh kemuliaan, sebaliknya tidak sedikit orang yang memiliki kemuliaan tanpa mempunyai kekuasaan dan jabatan. Kita tidak perlu dan tidak boleh memaksakan sehingga harus melakukan segala cara yang tidak dibenarkan. Kemenangan dan kekalahan dalam memperoleh kekuasaan dan kepemimpinan hanyalah proses dalam wilayah manusia. Allah bisa saja menguji dengan kemenangan, padahal sesungguhnya Allah tidak ridha dengan kemenangan itu.
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Katakanlah: ‘Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” – (QS.3:26)
Nubuwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengisyaratkan:
لَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ حَتَّى يَسُودَ كُلَّ قَبِيلةٍ مُنَافِقُوهَا .
“Tidak akan terjadi kiamat sebelum setiap kabilah dipimpin oleh orang-orang munafiqnya.”(Hr. Ath-Thabrani)
Jika kekuasaan negara dipegang oleh orang-orang munafiq, niscaya erosi akan melanda keyakinan umat, dan mengikis jiwa agama dari hati rakyat. Prilaku rakyat yang kering dari ajaran agama akan menyuburkan kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah Swt.
Khalifah Umar bin Khatthab radiyallahu ‘anhu mengingatkan bahwa kerusakan sistem pemerintahan dan dikuasainya berbagai urusan oleh orang-orang yang fasik merupakan sebab kehancuran pilar-pilar masyarakat.
“Suatu negeri akan hancur meskipun dia makmur,” kata beliau. Para sahabatnya bertanya, “Bagaimana suatu negeri akan hancur sedangkan kondisi rakyatnya makmur?”
Khalifah Umar menjawab, “Jika orang-orang durhaka menjadi pejabat negara dan harta dikuasai oleh orang-orang yang fasik.” Ketika pemimpin eksekutif, legislatif, dan yudikatif dijabat oleh orang-orang yang tidak mengindahkan ajaran agama, tidak berpegang pada hukum Allah dan Rasul-Nya, maka dia sulit membedakan yang benar dan salah, antara petunjuk Allah dan tipuan setan, antara maslahat dan muslihat.
Di tengah hingar bingarnya demokrasi ini, berapa banyak orang-orang yang naik jadi pemimpin bukan karena reputasi intelektual maupun moral, melainkan popularitas dan banyak uang. Munculnya pemimpin dengan latar belakang seperti itu, hanya akan menjadi pelopor kemungkaran yang akan menjerumuskan rakyatnya ke neraka.
Lalu, manfaat apa yang dapat diharapkan rakyat dari pemimpin berkualitas rendah, dengan dosa sosial serta moral yang bertumpuk ? Allahu musta’an. Semoga Allah menjauhkan dan melindungi kita dari pemimpin-pemimpin seperti itu.
Saat kita bertaqarub bersimpuh di hadapan Allah di bawah terik matahari yang menyinari padang Arafah ini, kita muhasabah, menanyakan pada diri kita sendiri-sendiri, mungkin tanpa kita sadari kita telah ikut serta menciptakan situasi yang seperti itu akibat ambisi dan egoisme yang melilit. Kita bertaubat memohon ampunan-Nya, seraya memohon kasih sayang-Nya, semoga sekembali kita ke tanah air nanti, kita sudah dapatkan pemimpin-pemimpin negeri yang amanah, yang mencintai dan dicintai oleh rakyat, menegakkan aqidah dan akhlak serta mampu membawa kesejahteraan dan kemakmuran.
Semoga Allah memberikan kekuatan dan bimbingan untuk mewujudkan ummatan wahidah umat yang utuh. Merawat keutuhan Ukhuwah Islamiyah, sehingga kita yang hadir di sini saat ini dan saudara-saudara kita di tanah air dapat terbebas dari belenggu kemunafikan, terhindar dari jeratan ketakaburan serta dapat bimbinganNya sampai akhir zaman.
لَبَّيْكَ اَللَّهُمَّ لَبَّيْكَ, لَبَّيْكَ لاَشَـرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ
Saat ini kita dengan berpakaian ihrom, kita menganggalkan pakaian biasa, berarti kita menanggalkan segala macam perbedaan dan menghapuskan keangkuhan, kesombongan dan egoisme pribadi atau golongan. Perbedaan yang ada diantara manusia tidak untuk dipertentangkan, karena menyadari bahwa yang membedakan kita di hadapan Allah hanyalah tingkat ketaqwaan kita kepada-Nya, bukannya tingkat ekonomi, status sosial, latar belakang etnis dan budaya, apalagi aspirasi politik.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Q.S. Al Hujurat : 13)
Dengan pakaian ihram timbullah pengaruh psikologis, bahwa dalam keadaan yang demikianlah seseorang menghadap Tuhan pada saat kematiannya. Bukanlah ibadah haji adalah kehadiran memenuhi panggilan Allah ?. Untuk beribadah haji kita diperintahkan untuk berbekal
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ
“… berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal itu ialah taqwa. Bertaqwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.” (Q.S.Al Baqarah : 197).
Untuk memenuhi panggilan Allah kelak (kematian), sudahkah kita menyiapkan perbekalan ?
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Q.S.Al Hasyr : 18)
لَبَّيْكَ اَللَّهُمَّ لَبَّيْكَ, لَبَّيْكَ لاَشَـرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ
Ibadah haji sesungguhnya lebih merupakan perjalanan rohani dari pada perjalanan jasmani, karena tujuan hakiki perjalanan haji bukanlah semata-mata Makkah, Arafah, Mudzalifah, Mina ataupun Madinah. Bukan pula semata-mata thawaf, sa’i, wukuf atau melontar jumrah. Tetapi, tujuan sesungguhnya adalah Allah SWT dengan seluruh kecintaan dan keridhaan-Nya.
Kemabruran haji dapat dilihat dari bekasnya simbol-simbol yang indah tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Apakah sekembali dari Tanah Suci ia telah mampu melepaskan kesombongan dan egoisme ?. Masih adakah keangkuhan di dalam jiwanya ?. Masih terasa adanya perbedaan derajad kemanusiaan ?, masih ingin menang sendiri dan menindas orang lain ?.
Kemabruran haji harus terus dipertahankan dengan terus melakukan upaya terjadinya perubahan dan peningkatan dalam kesadaran beragamanya, yang meliputi sikap istiqomah dalam beragama, peningkatan kualitas ibadah, peningkatan kualitas akhlak dan komitmennya terhadap perjuangan Islam.
Ibadah Haji adalah rangkaian ritual yang didominasi dengan dzikir. Mulai dari berihram, thawaf, sa’i, wukuf sampai dengan mabit di Mudzalifah, Mina dan melontar Jumrah.Tetapi, setelah menyelesaikan rangkaian ritual haji tersebut Allah SWT memerintahkan kita untuk kembali berdzikir :
فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا
“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. (Q.S.Al Baqarah : 200)
Hal tersebut adalah agar adanya konsistensi kesalehan atau istiqomah. Jangan sampai sekembali dari tanah suci seseorang kemudian merasa terlepas dari kendali dan pengawasan Allah. Akibatnya, imannya menjadi labil. Istiqomah adalah kokoh dalam memegang prinsip-prinsip aqidah, dan konsisten dalam beribadah. Kokohnya aqidah ditandai dengan adanya pengakuan akan keesaan Tuhan serta penolakan terhadap segala macam bentuk kemusyrikan serta adanya keyakinan tentang neraca keadilan Tuhan dalam kehidupan ini yang puncaknya akan diperoleh pada hari akhir kelak.
Konsistensi beribadah akan terus terpelihara, seperti ketika berada di tanah suci. Pendek kata, indikasi sikap istiqomah bagi seseorang sekembalinya dari beribadah haji akan terlihat dari sikap dan perilakunya:
  • Meskipun dihadapkan dengan berbagai persoalan hidup, ibadah tidak pernah redup
  • Dicaci ataupun dipuji, sujud pantang berhenti.
  • Kantong kering ataupun tebal, tetap memperhatikan haram-halal;
  • Meskipun memiliki berbagai fasilitas kenikmatan, tidak tergoda melakukan kemaksiatan
Saat wukuf inilah saat ketika kita mengunjungi Allah, maka setelah itu hendaklah kita selalu mengundang Allah agar mengunjungi “rumah kita”. Pintu hati senantiasa terbuka dan dipersiapkan untuk menerima kunjungan-Nya. Di sini dan pada saat inilah kita bersihkan segala kotoran yang menyelimuti kehidupan kita yang fana ini. Kita netralkan dengan proses pertobatan yang sesungguhnya pada momentum wukuf di padang Arafah ini. Allah sendiri yang menjamin diterimanya pertaubatan itu.
Saat ini, di luar tenda tempat kita bernaung saat ini ada jutaan hamba-hamba Allah yang menjadi lambang persaudaraan umat sejagad. Di kanan-kiri kita datang saudara-saudara kita dari segala pelosok dunia di tengah keletihan jiwa dan raganya mereka menengadahkan tangan, memusatkan perhatiannya kepada Allah. Di tengah hamparan lautan jutaan manusia yang meliputi padang tandus Arafah ini kemudian Allah menyeru memerintahkan kepada malaikan-Nya: “Hai malaikat-Ku, lihatlah hamba-hamba-Ku. Meraka datang dari berbagai pelosok bumi. Mereka datang dengan pakaian yang penuh debu. Mereka datang dengan rambut yang kusut masai. Saksikan wahai malaikatKu, aku maafkan semua dosa dan kesalahan orang yang datangpada hari ini di tempat ini. Aku maafkan mereka atas segala khilaf yang pernah mereka lakukan”.
Allah SWT akan memaafkan dosa dan kesalahan kita apabila kita sendiri jujur mengakui dosa-dosa kita, dan kita berusaha dengan sungguh-sungguh melakukan taubatan nashuha : berhenti dari dosa, menyesalinya dan berjanji tidak mengulanginya.
لَبَّيْكَ اَللَّهُمَّ لَبَّيْكَ, لَبَّيْكَ لاَشَـرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ
Marilah kita tundukkan kepala kita, kita bukakan lebar-lebar mata hati dan pendengaran kita, kita pasrahkan setulus-tulusnya kepada Allah di puncak ibadah haji wukuf di Arafah ini.
Marilah kita bersihkan segala bentuk kekeliruan dan kesalahan kita.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
  • Ya Allah Yang Maha Agung. Kami datang memenuhi panggilanMu ya Rab. Kami sesungguhnya malu untuk menghampiriMu kalau bukan karena perintahMu. Izinkan kami memohon semoga Engkau berkenan mendengarkan pengakuan dan rintihan kami.
  • Ya Allah Yang Maha Kuasa. Betapa kecil arti kehadiran kami di padang Arafah yang luas ini. Bahkan semakin kecin karena terkubur tumpukan dosa dan kesalahan kami.
  • Rab, tataplah kami, Engkau akan menemukan kami dalam keadaan kotor. Sapalah kami, agar kegelisahan kami berubah menjadi ketenangan.
  • Lihatlah kami Ya Rab, betapa tidak pantasnya kami berpakaian ihram ini. Kalau saja bukan karena Engkau yang memanggil kami, kami tidak pernah berada di sini.
  • Kami duduk di Arafah ini bukan karena kami pantas Ya Rab. Kehadiran kami bersama jutaan hamba-hambaMu bukan karena kami unggul dan suci, justru karena kami adalah hamba-hamba yang lemah dan penuh noda. Jika Engkau berkenan maka kami ingin membakar semua watak kebinatangan kami. Kami ingin membasmi semua kemunafikan dan ketakaburan kami. Kami ingin terbebas dari penjara egoisme yang menyesatkan kami.
  • Yaa Allah Tuhan Yang Maha Perkasa, kami sadar kami belum sempurna menjadi hambaMu seperti yang Engkau perintahkan, tetapi kami tetap ingin setiap langkah kami senantiasa mendapat RidhaMu Yaa Rab.
  • Sesungguhnya kami malu bersimpuh di padang Arafah ini, kami malu menjerit bertaubat di tengah suasana wukuf ini. Kami malu memenuhi panggilanMu untuk bersujud di baitullah bersama jutaan hambaMu yang sholeh. Kami malu meminta kepadaMu di tengah kelalaian menegakkan ajaranMu.

لَبَّيْكَ اَللَّهُمَّ لَبَّيْكَ, لَبَّيْكَ لاَشَـرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ
  • Kami masih sering meninggalkan perintahMu. Yaa Allah betapa besar anugrah nikmat yang Engkau berikan kepada kami. Betapa besar pengharganMu memberikan kesempatan kepada kami duduk di Arafah ini. Kami tidak merasa layak menerima penghargaanMu ini Ya Rab.
  • Rab, kami ini tidak lebih dari hamba-hambaMu yang hina. Kami tidak lebih dari hamba-hambaMu yang lemah. Hamba-hambaMu yang tidak pernah sepi dari perbuatan khilaf. Hamba-hambaMu yang senantiasa berlumuran dengan dosa dan kesalahan. Terimalah kehadiran kami, terimalah wukuf kami, terimalah taubat kami.
  • Yaa Allah, Yaa Rabbana. Dalam menempuh perjalanan hidup kami yang kian menepi, kami tidak ingin berujung dalam kekufuran ataupun ketakaburan. Dalam menjalankan sisa usia hidup kami, kami ingin berakhir dengan khusnul khatimah. Kami ingin Ya Allah Yang Maha Penyayang keberakhiran keberakhiran hidup kami meninggalkan jejak-jejak yang Engkau nilai sebagai kebajikan agar seluruh nafas yang kami hembuskan selalu memancarkan Tauhiidullah. Agar setiap langkah yang kami kerjakan dalam hidup kami menjadi amanah ibadah, untuk itu wahai Allah Rabbul Izzati, hindarkan kami dari tindakan menyekutukanMu dengan alasan apapun.
  • Hindarkan kami dari sikap permusuhan sesama kami. Hindarkan kami dari kebiasaan mensia-siakan waktu untuk mengabdi hanya kepadaMu. Hindarkan kami dari sifat-sifat kemunafikan, keangkuhan dan ketidak jujuran.
  • Yaa Allah, perkenankanlah kami menumpahkan segala penyesalan atas segala kelalaian, ketakaburan, kesombongan dan kemunafikan di hadapanMu Yaa Allah.
  • Yaa Allah, Engkau telah turunkan kepada kami agama yang benar, agama Islam, bahkan kami telah mengimaninya. Tetapi dengan jujur kami mengakui belum bersungguh-sungguh menjalankan ajaran agamaMu yang kami yakini itu.
  • Engkau telah turunkan Al Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup kami, tetapi kami belum bersungguh-sungguh mengkajinya, menghayatinya dan mengamalkannya.
  • Engkau telah berikan tauladan hidup Rasulullah saw, tetapi kami belum bersungguh-sungguh mengikuti jejak langkahNya, mencontoh akhlak dan pribadinya.
  • Engkau telah memberitahu kami, bahwa iblis dan setan adalah musuh kami yang akan menyesatkan dan mencelakakan kami, tetapi kami sering menjadi pengikutnya, menuruti bujukannya dan tidak memusuhinya.
  • Engkau telah ajarkan kepada kami bahwa kehidupan dunia ini adalah kehidupan sementara, dan kehidupan yang abadi adalah di akhirat kelak. Tetapi kami sering lupa seakan kehidupan ini hanya dunia yang fana semata. Kami habiskan energi dan waktu kami untuk kesenangan di dunia, kami tidak sungguh-sungguh mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat kelak
  • Engkau telah ajarkan bahwa harta dan kedudukan adalah amanah titipan yang harus kami jadikan bekal untuk ibadah kepadaMu. Tetapi kami sering menjadikannya tujuan hidup kami, sehingga harta dan kedudukan menjadi penghalang beribadah kepadaMu. Kami sering tidak pandai memanfaatkan harta dan kedudukan, bahkan kami sering diperbudak olehnya.
  • Yaa Allah, kami tahu bahwa surga itu keindahan dan kenikmatan, tetapi kami sering berbuat yang menjauhkan kami dari surga yang indah itu.
  • Kami tahu bahwa neraka itu adalah penderitaan dan penyesalan, tetapi kami kerap berbuat yang dapat membuat kami menuju azab neraka.
  • Ampunilah kami Yaa Allah, siramilah kami dengan Rahmat dan KasihsayangMu.
اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اَصْلِح جَمِيْعَ وُلاَةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَاَهْلِكِالْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ, وَانْصُرِالاْسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ, وَاَعْلِ كَلِمَتَكَ اِلَى يَوْمِالدِّيْنَ.اَللَّهُمَّ اجعَلْ بَلْدَتَنَاإِنْدُنِيْسِيَّاآمِنَتً مُطْمَئِنَّةً وَرْزُقْ أَهْلَهُ رِزْقًاوَاسِعًاحَلاَلاًمُبَارَكًا.اَللَّهُمَّ اَلِّفْ بَيْنَنَاوَبَيْنَنَاقُلُوبِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ حَتَّى نَكُوْنَ كَالْبُنْيَنِالْمَرْصُوصِ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَ سَعْيًا مَشْكُوْرًا وَ ذَنْبًا مَغْفُوْرًا
رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِىالآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار
Arafah, 9 Dzulhijjah 1435
Penulis:
Untung Santosa (KBIH ‘Aisyiah D.I.Yogyakarta)
sumber : mentarinews.co.id

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More