Selamat datang, terima kasih atas kunjungannya. Salam perdamaian

Tuntunan Rasulullah SAW Untuk Kehidupan Keseharian Kita

"Siapapun yang ingin hidup ini bahagia, mulia, dan bermartabat, maka pelajari dan tirulah Nabi Muhammad SAW dengan segenap keikhlasan"

Hendaknya kita selalu menjaga sunnah Rasulullah SAW di dalam kehidupan kita, semoga Allah Yang Maha Agung mengkaruniakan kita kecintaan dan kerinduan kepada Rasulullah SAW, dan kita menjalankan sunnahnya dengan penuh ketulusan karena dalam keadaan cinta kepada Beliau SAW.


Kaum muslimin dan muslimat tanpa terkecuali tentunya sangat ingin untuk mengikuti semua tuntunan Nabinya, berikut sedikit di antara sunnah-sunnah Nabi SAW yang dapat kita terapkan langsung dalam keseharian kita:

Mendahulukan yang Kanan
Dari Aisyah Ra: Bahwa Nabi SAW menyukai memulai dengan bagian yang kanan, dalam memakai sandalnya, dalam menyisir rambutnya, dalam bersucinya, dan dalam gerak-geriknya” (Shahih Bukhari).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam banyak perbuatannya senantiasa mendahulukan bagian anggota yang kanan, Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani menyebutkan dengan menukil ucapan Al Imam An Nawawi bahwa ucapan Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam “ وفي شأنه كله (dalam segala perbuatannya)” menunjukkan kalimat ‘aam makhsuus (kalimat umum yang dikhususkan), yang mana tidak semua perbuatan yang Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kerjakan dimulai dari anggota yang kanan, sebagaimana banyak perbuatan yang Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mulai dengan anggota yang kiri, seperti ketika masuk ke dalam kamar mandi, atau ketika keluar dari masjid, dan lainnya.

Senyum dan Salam (Mengucapkan dan menjawab)
Jangan Sekali-kali meremehkan sesuatu perbuatan baik walaupun hanya sekedar senyuman. Dari Abu Dzar ra, dia berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Dari Abdullah bin Al Harits bin Jaz`i ra dia berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak senyumannya selain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” (HR. Tirmidzi).

Dari Jarir bin Abdillah ra dia berkata, “Sejak aku masuk Islam, Rasulullah Saw tidak pernah menolak aku untuk duduk bersama Beliau. Dan tidaklah beliau melihatku kecuali Beliau tersenyum kepadaku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mengucapkan salam, hukumnya adalah sunnah. Sedangkan bagi yang mendengarnya, wajib untuk menjawabnya. Ucapan Assalamu ‘alaikum, atau lengkapnya Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, yang artinya “Semoga kedamaian dilimpahkan kepadamu diiringi dengan rahmat dari Allah dan juga barakah dari Allah untukmu”, yang diucapkan sesama muslim, adalah sunnah Nabi Muhammad SAW. Adapun jawabannya adalah Wa’alaikumus salaam, atau lengkapnya Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wabarakatuh.

Dari beberapa sabda Nabi Muhammad SAW jelas terlihat betapa pentingnya ucapan salam antar-sesama muslim.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, "Kamu tidak dapat memasuki surga kecuali bila kamu beriman. Imanmu belumlah lengkap sebelum kamu berkasih sayang satu sama lain. Maukah kuberitahukan kepadamu sesuatu yang, jika kamu kerjakan, kamu akan menanamkan dan memperkuat kasih sayang di antara kamu sekalian? Tebarkanlah ucapan salam satu sama lain, baik kepada yang kamu kenal maupun yang belum kamu kenal." (HR Muslim).

Abu Umammah RA meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, ”Orang yang lebih dekat kepada Allah SWT adalah yang lebih dahulu memberi salam.” (Musnad Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi).

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah Saw. bersabda: Seorang pengendara hendaknya mengucapkan salam kepada pejalan kaki dan pejalan kaki mengucapkan salam kepada orang yang duduk dan jamaah yang beranggota lebih sedikit mengucapkan salam kepada jamaah yang beranggota lebih banyak. (Shahih Muslim No.4019)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah Saw. bersabda: Ada lima kewajiban bagi seorang muslim terhadap saudaranya yang muslim; menjawab salam, mendoakan orang yang bersin, memenuhi undangan, menjenguk orang sakit dan mengiring jenazah. (Shahih Muslim No.4022)

Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:
Rasulullah Saw. pernah melewati anak-anak lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka. (Shahih Muslim No.4031)

Makan dan Minum dalam Keadaan Duduk
Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri. Apabila dia lupa maka hendaknya dia muntahkan.” (HR. Muslim no. 2026),

“Bagaimana dengan makan (sambil berdiri)?” Anas menjawab, “Itu lebih parah dan lebih jelek.” (HR. Muslim no. 2024).

Menyambung Silaturrahmi (Kepada kerabat, teman, tetangga, dst)
Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Aku pernah mendengar Rasulullah SAW. bersabda: Barang siapa yang merasa senang bila dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung hubungan kekeluargaan (silaturahmi). (Shahih Muslim No.4638)

Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Tidak ada dosa yang Allah cepatkan adzabnya kepada pelakunya di dunia ini di samping adzab yang telah Dia sediakan untuknya di akhirat daripada berlaku Dzalim dan Memutuskan Silaturrahmi". (al-Adab al-Mufrad, No. 29)

Memenuhi Undangan dan Menjenguk orang Sakit
Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Apabila seorang di antara kamu diundang untuk menghadiri pesta perkawinan, maka hendaklah ia menghadirinya. (Shahih Muslim No.2574)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Ada lima kewajiban bagi seorang muslim terhadap saudaranya yang muslim; menjawab salam, mendoakan orang yang bersin, memenuhi undangan, menjenguk orang sakit dan mengiring jenazah. (Shahih Muslim No.4022)

Shalat Tahajjud.
Kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya.

Nabi SAW bersabda, “Laku­kanlah oleh kalian shalat malam, karena hal itu merupakan  kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian,  pendekat­an diri kepada Allah Ta`ala, pencegah dari dosa, penghapus segala kesalahan, dan penolak penyakit dari tubuh.”

Beliau SAW juga bersabda, “Dua rakaat di tengah malam yang dilakukan oleh se­orang anak Adam  lebih baik daripada dunia dan seisinya. Dan jika saja tidak memberatkan umatku, niscaya aku me­wajibkan dua rakaat shalat malam ter­sebut kepada mereka.”

Diriwayatkan bahwa Allah membang­gakan orang-orang yang melakukan shalat malam kepada para malaikat. Allah berfirman, “Lihatlah hamba-hamba-Ku. Sungguh mereka telah melakukan shalat di kegelapan malam, sehingga tidak ada yang melihat mereka selain Aku. Aku bersaksi kepada kalian bahwa­sanya Aku mempersilakan mereka me­nempati negeri kemuliaan-Ku.”

Kemudian setelah shalat, mohon ampunlah untuk orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan. Nabi SAW ber­sabda, “Barang siapa memohonkan ampunan kepada Allah bagi orang-orang beriman laki-laki dan perempuan, nis­caya, dari setiap orang beriman laki-laki dan perempuan, Allah menuliskan bagi­nya satu kebaikan.”

Membaca Al-Qur’an.
Alquran merupakan kitab suci sempurna yang mengulas berbagai aspek kehidupan. Sebelum terbit matahari, alangkah baiknya mata membaca Al-Qur’an terlebih dahulu sebelum melihat dunia, sebaiknya dengan penuh penghayatan.

Allah SWT berfirman: Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS Al-Baqarah [2]: 2).

Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. (QS Al-‘Ankabut [29]: 51).

Shalat Berjama'ah di Masjid
Sebelum melangkah ke manapun, langkahkan kaki ke masjid, karena masjid merupakan pusat keberkahan, bukan karena panggilan muadzin, tetapi panggilan Allah yang menyeru kepada orang beriman untuk memakmurkan masjid Allah.

Rasulullah Saw pernah bersabda, sesungguhnya Shalat Subuh dan dan Sholat Isya’ secara berjamaah di masjid sangat sulit dikerjakan oleh orang-orang yang munafik. Maukah gelar ini melekat pada diri kita? Tentu tidak. Maka marilah kita bangun pagi untuk melaksanakan perintah Allah. Allah SWT akan mengubah apa yang terjadi di muka bumi ini dari kegelapan menjadi keadilan, dari kerusakan menuju kebaikan. Semua itu terjadi pada waktu yang mulia, ialah waktu Subuh.

Berhati-hatilah, jangan sampai tertidur pada saat yang mulia ini. Allah SWT akan memberikan jaminan kepada orang yang menjaga shalat Subuhnya, yaitu terbebas dari siksa neraka jahanam.

Diriwayatkan dari Ammarah bin Ruwainah ra, ia berkata: "Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda: Tidak akan masuk neraka, orang yang shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam matahari'." (HR Muslim).

Shalat Subuh merupakan hadiah dari Allah SWT. Hadiah ini tidak diberikan, kecuali kepada orang-orang yang taat lagi bertobat. Hati yang diisi dengan cinta kemaksiatan, bagaimana mungkin akan bangun untuk shalat Shubuh. Orang munafik tidak mengetahui kebaikan yang terkandung dalam shalat Subuh berjama'ah di masjid. Sekiranya mereka mengetahui kebaikan yang ada di dalamnya, niscaya mereka akan pergi ke masjid, bagaimanapun kondisinya, seperti sabda Rasulullah Saw, "Maka mereka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak".

Shalat Dhuha
Ada banyak keutamaan di balik Shalat Dhuha, pelakunya diampuni dosanya, rezekinya diluaskan sepanjang hari, dan dimasukkan ke surga melalui pintu Dhuha. Bahkan, siapa saja yang mengerjakan shalat Dhuha secara kontinu (dawâm), pahalanya bisa menyamai pahala ibadah haji (bagi yang belum mampu). Dengan menunaikan Shalat Dhuha, kita sedang memberikan makna yang luhur atas pekerjaan dan tugas sehari-hari yang akan kita selesaikan. Kita bekerja juga merupakan sebuah tugas mulia dan semestinya dimulai dengan mengingat Allah SWT, agar keberkahan dan semangat melewati proses kerja dilimpahkan oleh-Nya. Sebab, dengan Shalat Dhuha, kita memohon kepada-Nya untuk menjadi Pelindung.

Dari Abu Dzarr Ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap pagi, pada ruas tulang kalian terdapat sedekah,
setiap ucapan tasbih (SUBHANALLAH) adalah sedekah,
setiap ucapan tahmid (ALHAMDULILLAH) adalah sedekah,
setiap ucapan tahlil (LAA ILAHA ILLALLAH) adalah sedekah,
setiap ucapan takbir (ALLAHU AKBAR) adalah sedekah,
memerintah kebaikan adalah sedekah,
mencegah perkara mungkar adalah sedekah,
dan dua raka’at yang dikerjakan seseorang dalam Shalat Dhuha telah mencakup semuanya.”
(HR.Muslim)

Sedekah (setiap hari)
Allah SWT menyukai orang yang suka bersedekah, dan malaikat Allah selalu mendoakan kepada orang yang bersedekah setiap hari.

Sedekah memiliki banyak keutamaan, (terutama yang dilakukan pada bulan Ramadhan). Di antara keutamaan sedekah adalah menyucikan diri dari dosa-dosa kecil, menunjukkan rasa syukur, menghilangkan sifat kikir pada diri seseorang, memuliakan harta yang dimiliki, dan membantu meringankan beban kaum dhuafa.

Allah SWT. berfirman: "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui". (QS Al-Baqarah [2]: 261).

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari tentang salah seorang wanita bertanya kepada Rasul Saw, “Wahai Rasulullah, aku punya harta yang lebih, boleh tidak aku sedekahkan pada suamiku dan anakku? boleh tidak sedekah kepada kerabat sendiri?”, maka Rasul Saw menjawab “Untukmu dua pahala”. Yang pertama kau dapat pahala shadaqah dan yang kedua kau dapat pahala menyambung silaturahmi dengan kerabatmu.

Sering dipertanyakan, mana yang lebih didahulukan, umum atau keluarga sendiri?. Justru keluarga sendiri dulu baru orang lain. Bahkan kepada keluarga sendiri, kata Rasul Saw, ada dua pahala, yaitu pahala shadaqah dan pahala menyambung kekerabatan. Demikian indahnya tuntunan Nabiyyuna Muhammad Saw.

Untuk sedekah dalam bentuk materi tentunya kita semua telah banyak memahaminya, namun perlu juga kita sadari bahwa sedekah tidaklah semata-mata dalam bentuk materi (harta atau benda), sebagaimana hadist berikut, Dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah Ra., ia bertanya kepada Rasulullah Saw: “Amal apakah yang paling utama?” Beliau Saw menjawab: “Iman kepada Allah dan berjuang di jalan-Nya.” Saya bertanya: “Memerdekakan budak yang bagaimana yang paling utama?” Beliau Saw menjawab: “Memerdekakan budak ketika sangat disayang oleh tuannya dan yang paling mahal harganya .” Saya bertanya: “Seandainya saya tidak mampu berbuat yang sedemikian, lalu bagaimana?” Beliau Saw menjawab: “Kamu membantu orang yang bekerja atau kamu menyibukkan diri agar hidupmu tidak sia-sia.” Saya bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika saya tidak mampu melakukan sebagian pekerjaan itu?” Beliau Saw menjawab: “Janganlah kamu berbuat kejahatan kepada sesama manusia, karena sesungguhnya yang demikian itu termasuk sedekah untuk dirimu.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Hiduplah untuk berbagi, sebab dengan berbagi kita semakin berarti. Berbagi erat kaitannya dengan memberi. Inilah yang dimaksudkan oleh Nabi SAW dalam hadits, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya.”. (HR Al-Thabarani)

Jaga Wudhu (terus menerus).
Allah menyayangi hamba yang berwudhu. Kata khalifah Ali bin Abu Thalib, “Orang yang selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu shalat walau ia sedang tidak shalat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, "Ampuni dosa dan sayangi dia Ya Allah”.

Diriwayatkan dari Nabi SAW bahwa­sanya Beliau bersabda, ”Barang siapa hendak tidur dan ingin terbangun di waktu tertentu, hendaknya ia tidur dalam kondisi berwudhu, dan ketika hendak tidur membaca ayat yang artinya, ”Kata­kanlah, ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku… — hingga akhir surah.’.” (QS Al-Kahfi: 110). Lalu mengusap dadanya dengan tangan kirinya dan mengucapkan Allahumma nabihni fi waqti kadza atau fi sa`ati kadza (Ya Allah, bangunkan aku di waktu ini atau jam sekian). Maka ia akan terba­ngun di waktu tersebut dengan pasti.”

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa tidur dimalam hari dalam keadaan suci (berwudhu’) maka malaikat akan tetap mengikuti, lalu ketika ia bangun niscaya malaikat itu akan berucap ‘Ya Allah ampunilah hamba-Mu si fulan, karena ia tidur di malam hari dalam keadaan selalu suci’”. (HR Ibnu Hibban dari Ibnu Umar r.a).

Istighfar (setiap saat)
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, ”Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya setiap hari sebanyak seratus kali”. (Riwayat Al Bukhari dalam Adab Al Mufrad dan dihasankan oleh Al Hafidz As Suyuthiy). Al Hafidz Al Ala’iy menjelaskan bahwa maksud taubat di hadits itu adalah taubat istighfar, yang mana Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam banyak melakukannya.

Istigfar bukanlah sekedar ucapan dzikir belaka, tetapi di dalamnya terkandung nilai ibadah yang begitu besar, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Tidaklah tergolong orang berdosa, orang yang selalu beristigfar meskipun dia mengulangi perbuatan dosanya sebanyak 70 kali dalam sehari." (HR Tirmidzi).

Dengan istighfar, masalah yang terjadi karena dosa kita akan dijauhkan oleh Allah SWT.

Bershalawat ke atas Nabi SAW
Ubay bin Ka’ab bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, berapa banyak saya harus mengucapkan shalawat untukmu?” Rasulullah menjawab, “Sesukamu.” Lalu Ubay bertanya lagi, “Apakah seperempat atau dua pertiga?” Rasulullah menjawab, “Sekehendakmu. Dan jika engkau tambahkan, maka itu lebih baik.” Jadi, makin banyak kita bershalawat kepada Nabi, maka akan semakin bagus. Ini adalah jaminan dari Rasulullah Saw. Lalu Ubay kemudian bertanya lagi, “Apakah shalawatku untukmu seluruhnya?” Rasulullah Saw menjawab, “Karena itu, dosamu akan diampuni, dan kesedihanmu akan dihilangkan.

Siti Aisyah rha pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Siapakah yang tidak akan melihatmu pada hari kiamat?” Jawab Rasulullah SAW: “Orang yang bakhil (kikir/pelit)”. Siti Aisyah rha bertanya lagi: “Siapakah orang yang bakhil itu?” Jawab Baginda SAW: “Orang yang ketika disebut namaku di depannya, dia tidak mengucap shalawat ke atasku.”

Shalawat kepada Nabi Muhammad menjanjikan pahala yang sangat besar. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa bershalawat kepadaku sekali, Allah akan bershalawat kepadanya 10 kali"  (HR. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa'i dan Ahmad)

Satu shalawat-Nya Allah untuk hamba sudah pasti jauh lebih baik dari pada dunia beserta isinya..!!. Siapa yang bershalawat kepada Nabi sewaktu duduk, ia akan diampuni sebelum berdiri dan siapa yang bershalawat kepada Beliau sewaktu hendak tidur, ia akan diampuni sebelum bangun. Shalawat merupakan guru bagi mereka yang tak memiliki guru, karenanya shalawat tidak butuh guru maupun khusyu dalam membacanya, tetapi akan lebih sempurna jika diucapkan dengan hati yang khusyu.

"Bahkan Riya' atau mengharapkan pujian manusia pun tidak dapat menghapuskan pahala shalawat"

Wal Akhir perlu kita ingat, dalam menjalankan sunnah terdapat perbedaan antara i'tiba (mengikuti) dan mahabbah (mencintai), bahwa menjalankan Sunnah Nabi janganlah hanya pada dhohirnya (gerak-gerik) saja yaitu mengikuti Nabi Muhammad SAW yang tanpa dibarengi "ruh mengikuti". Dan ruh mengikuti itu adalah cinta (mahabbah) kepada Nabi Muhammad SAW. Alangkah banyaknya kelalaian kita akan ruh mengikuti ini. Mengikuti Nabi Muhammad SAW belum tentu cinta akan tetapi yang mencintai Nabi Muhammad SAW pasti akan patuh dan mengikuti Nabi Muhammad SAW. Jagalah selalu sunnah-sunnah baginda Nabi besar Muhammad SAW.

Allahuma Shalli 'Ala Sayyidina Muhammad Wa 'Ala Alihi Washahbihi Wasallim

Wassalam

sumber : http://nurulmakrifat.blogspot.com/

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More