Selamat datang, terima kasih atas kunjungannya. Salam perdamaian

PRINSIP DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGEMBANGAN KURIKULUM

Pengertian Kurikulum

Terdapat berbagai macam pengertian diberikan kepada istilah kurikulum. Ada yang memberikan pengertian secara luas maupun secara singkat. Kata kurikulum sendiri bukan berasal dari Indonesia asli, namun kata serapan dari bahasa Yunani. Dalam bahasa Yunani, kurikulum berarti Cucere yang berubah menjadi kata benda Curriculum. Jamaknya adalah Curicula yang pertama kali dicapai dunia atlantik Dalam kamus Webster terdapat arti dari kurikulum, diantaranya:
1.      Tempat berlomba, jarak yang harus ditempuh pelari kereta lomba
2.      Pelajaran-pelajaran tertentu yang diberikan di sekolah maupun Perguruan Tinggi yang ditujukan untuk mencapai suatu tingkat atau ijazah
3.      Keseluruhan pelajaran yang diberikan dalam suatu lembaga pendidikan
Kurikulum dipandang sebagai suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya. Menurut Hamalik dinyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.
Dalam  buku Secondary School Improvement (1971) karya J. Lloyd Trump dan Delmas F. Miller menyebutkan bahwa kurikulum itu termasuk metode pembelajaran, cara mengevaluasi siswa dan program pembelajaran, perubahan tenaga pengajar, bimbingan penyuluh, supervisi dan administrasi, alokasi waktu dan ruang, serta kemungkinan memilih mata pelajaran.
Oleh karena itu, pembentukan kurikulum yang baik dalam pembelajaran dijenjang pendidikan dsar sampai perguruan tinggi memiliki faktor-faktor yang mempengaruhi serta prinsip-prinsip yang harus dipegang teguh.


2.2  Prinsip-Prinsip yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum
Prinsip yang dijadikan acuan oleh setiap tenaga pengajar dalam suatu lembaga dengan lembaga yang lain terkadang memiliki perbedaan. Namun perbedaan tersebut pada dasarnya tetap mengacu pada prinsip mencerdaskan kehidupan bangsa.
Ada beberapa prinsip yang menjadi dasar dalam pelaksanaan kurikulum yang baik. Seperti yang dikutip dari Sukmadinata dalam bukunya Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktik, prinsip tersebut dikelompokkan  menjadi 2 yaitu prinsip umum dan khusus.
Prinsip umum meliputi:
1.      Prinsip Relevansi: mengandung makna bahwa kompetensi yang dimiliki siswa harus relevan dan sesuai kebutuhan di masyarakat. Sehingga dapat juga diartikan bahwa prinsip ini harus memili keterkaitan/hubungan timbal baik antara komponen-komponen di dalam dan luar sekolah.
2.      Prinsip Fleksibel: mengandung makna bahwa setiap kurikulum hendaknya bersifa fleksibel atau lentur, terutama yang berkaitan dengan implementasinya. Kurikulum dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan jati diri program studi yang ada.
3.      Prinsip Kontinuitas: Mengandung makna bahwa adanya proses pengembangan komponen-komponen kurikulum secara berkesinambungan. Harus ada ketuntasan dalam penguasaan suatu kompetensi. Jika putus-putus maka dikhawatirkan makna ketuntasan tersebut susah diperoleh
4.      Prinsip Kepraktisan: mengandung makna bahwa serangkaian kegiatan pengembangan kurikulum mudah diikuti dan dilaksanakan. Seberapa baiknya kurikulum jika tidak dapat dilaksanakan oleh pelaksanan lapangan maka sudah dapat ditebak pula apa hasil yang akan dicapai
5.      Prinsip Efektifitas: mengandung makna bahwa prinsip yang dilaksanakan harus mampu menghasilkan atau menyiapkan lulusan yang memenuhi harapan masyarakat penggunaannya. Disinilah dimensi kepuasan pengguna lulusan prodi yang diutamakan.
Sedangkan prinsip khusus yang tentu tidak dapat disampingkan adalah:
1.    Prinsip yang berkaitan dengan tujuan pendidikan: bahwa pembentukan kurikulum harus berdasarkan pada tujuan pendidikan baik dalam jangka pendek, menengah maupun panjang. Dan tujuan tersebut harus bersumber pada kebijakan pemerintah, tuntutan dari masyarakat, pandangan para ahli pendidikan, hasil riset maupun pengalaman dari Negara lain
2.    Prinsip yang berkaitan dengan isi pendidikan: memilih isi pendidikan harus mempertimbangkan penjabaran tujuan pendidikan ke dalam kemampuan hasil belajar, isi bahan pelajaran, yang meliputi pengetahuan, sikap, keterampilan, dan unit-unit kurikulum harus disusun secara logis.
3.    Prinsip yang berkaitan dengan pemilihan proses belajar-mengajar: metode belajar mengajar setidaknya harus menyesuaikan materi yang diajarkan. Metode ini berhubungan dengan tehnik pembelajaran yang efektif untuk dilakukan dan diterapkan dalam suatu proses pembelajaran agar materi mampu diserap oleh siswa.
4.    Prinsip yang berkaitan dengan media atau alat pembelajaran: pemilihan alat peraga dalam proses pembelajaran tentu memiliki fungsi lebih dalam proses penyerapan materi oleh siswa. Media yang dipilihpun juga harus sesuai dengan karakteristik materi, metode dan kondisi kelas.
5.    Prinsip yang berkaitan dengan kegiatan penilaian: dalam setiap kurikulum pasti memiliki metode dalam pemberian nilai. Karena nilai tersebut merupakan tujuan akhir dari setiap proses pembelajaran yang diberikan oleh pengajar dan dinantikan oleh siswa. Pemberian nilai tersebut harus objektif dan adil.

2.3  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum
Ada tiga faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum, yaitu:
1.         Pergururan Tinggi
Perguruan tinggi setidaknya memberikan dua pengaruh terhadap kurikulum sekolah.
Pertama, dari segi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan diperguruan tinggi umum. Pengetahuan dan teknologi banyak memberikan sumbangan bagi isi kurikulum serta proses pembelajaran. Jenis pengetahuan yang dikembangkan di perguruan tinggi akan mempengaruhi isi pelajaran yang akan dikembangkan dalam kurikulum. Perkembangan teknologi selain menjadi isi kurikulum juga mendukung pengembangan alat bantu dan media pendidikan.
Kedua, dari segi pengembangan ilmu pendidikan dan keguruan serta penyiapan guru-guru Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK, seperti IKIP, FKIP, STKIP). Kurikulum Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan juga mempengaruhi pengembangan kurikulum, terutama melalui penguasaan ilmu dan kemampuan keguruan dari guru-guru yang dihasilkannya.
Pengusaan keilmuan, baik ilmu pendidikan maupun ilmu bidang studi serta kemampuan mengajar dari guru-guru akan sangat mempengaruhi pengembangan dan implementasi kurikulum di sekolah. Guru-guru yang mengajar pada berbagai jenjang dan jenis sekolah yang ada dewasa ini, umumnya disiapkan oleh LPTK melalui berbagai program, yaitu program diploma dan sarjana. Pada Sekolah Dasar masih banyak guru berlatar belakang pendidikan SPG dan SGO, tetapi secara berangsur-angsur mereka mengikuti peningkatan kompetensi dan kualifikasi pendidikan guru melalui program diploma dan sarjana.

2.         Masyarakat
Sekolah merupakan bagian dari masyarakat, yang diantaranya bertugas mempersiapkan anak didik untuk dapat hidup secara bermatabat di masyarakat. Sebagai bagian dan agen masyarakat, sekolah sangat dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat di tempat sekolah tersebut berada. Isi kurikulum hendaknya mencerminkan kondisi masyarakat penggunanya serta upaya memenuhi kebutuhan dan tuntutan mereka.
Masyarakat yang ada di sekitar sekolah mungkin merupakan masyarakat yang homogen atau heterogen. Sekolah berkewajiban menyerap dan melayani aspirasi-aspirasi yang ada di masyarakat. Salah satu kekuatan yang ada dalam masyarakat adalah dunia usaha. Perkembangan dunia usaha yang ada di masyarkat akan mempengaruhi pengembangan kurikulum. Hal ini karena sekolah tidak hanya sekedar mempersiapkan anak untuk selesai sekolah, tetapi juga untuk dapat hidup, bekerja, dan berusaha. Jenis pekerjaan yang ada di masyarakat berimplikasi pada kurikulum yang dikembangkan dan digunakan sekolah.

3.    Sistem Nilai
Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat sistem nilai, baik nilai moral, keagamaan, sosial, budaya maupun nilai politis. Sekolah sebagai lembaga masyarakat juga bertangung jawab dalam pemeliharaan dan pewarisan nilai-nilai positif yang tumbuh di masyarakat.
Sistem nilai yang akan dipelihara dan diteruskan tersebut harus terintegrasikan dalam kurikulum. Persoalannya bagi pengembang kurikulum ialah nilai yang ada di masyarakat itu tidak hanya satu. Masyarakat umumnya heterogen, terdiri dari berbagai kelompok etnis, kelompok vokasional, kelompok intelek, kelompok sosial, dan kelompok spritual keagamaan, yang masing-masing kelompok itu memiliki nilai khas dan tidak sama. Dalam masyarakat juga terdapat aspek-aspek sosial, ekonomi, politk, fisik, estetika, etika, religius, dan sebagainya. Aspek-aspek tersebut sering juga mengandung nwilai-nilai yang berbeda.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengakomodasi berbagai nilai yang tumbuh di masyarakat dalam kurikulum sekolah, diantaranya:
a)    Mengetahui dan memperhatikan semua nilai yang ada dalam masyarakat
b)   Berpegang pada prinsip demokratis, etis, dan moral
c)    Berusaha menjadikan dirinya sebagai teladan yang patut ditiru
d)   Menghargai nlai-nilai kelompok lain
e)    Memahami dan menerima keragaman budaya yang ada
Berdasarkan analisis kami, bukan hanya 3 (tiga) faktor yang merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum, tetapi masih ada faktor lain yang dapat mempengaruhi pengembangan kurikulum. Salah satunya landasan pengembangan kurikulum itu sendiri. Landasan pengembangan kurikulum sangat mempengaruhi pengembangan kurikulum karena bila landasannya berupa maka akan mempengaruhi pengembangan kurikulum. Berdasarkan analisis kami, maka faktor-faktor lain yang mempengaruhi pengembangan kurikulum, diantaranya :
·    Filosofis
·    Psikologis
·    Sosial budaya
·    Politik
·    Pembangunan negara dan perkembangan dunia
·    Ilmu dan teknologi (IPTEK)
1.      Filosofis
Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti: perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran – aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan. Dengan merujuk kepada pemikiran Ella Yulaelawati di bawah ini diuraikan tentang isi dari masing-masing aliran filsafat, kaitannya dengan pengembangan kurikulum.
a)    Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan  keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
b)   Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.
c)    Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri.
d)   Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.
e)    Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya.
Aliran Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalam pengembangan Model Kurikulum Interaksional.
Masing-masing aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara selektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. Meskipun demikian saat ini, pada beberapa negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme. Ini merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pengembangan kurikulum (dari teacher center menjadi student center).
2.      Psikologis
Sukmadinata mengemukakan bahwa minimal terdapat dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum yaitu (1) psikologi perkembangan dan (2) psikologi belajar. Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya. Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan perkembangan, aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal lainnya yang berhubungan perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum. Psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar, serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan. Selanjutnya, dikemukakan pula tentang 5 tipe kompetensi, yaitu:
a)    Motif; sesuatu yang dimiliki seseorang untuk berfikir secara konsisten atau keinginan untuk melakukan suatu aksi.
b)   Bawaan; yaitu karakteristik fisik yang merespons secara konsisten berbagai situasi atau informasi.
c)    Konsep diri; yaitu tingkah laku, nilai atau image seseorang.
d)   Pengetahuan; yaitu informasi khusus yang dimiliki seseorang.
e)    Keterampilan; yaitu kemampuan melakukan tugas secara fisik maupun mental.
Kelima kompetensi tersebut mempunyai implikasi praktis terhadap perencanaan sumber daya manusia atau pendidikan. Keterampilan dan pengetahuan cenderung lebih tampak pada permukaan ciri-ciri seseorang, sedangkan konsep diri, bawaan dan motif lebih tersembunyi dan lebih mendalam serta merupakan pusat kepribadian seseorang. Kompetensi permukaan (pengetahuan dan keterampilan) lebih mudah dikembangkan. Pelatihan merupakan hal tepat untuk menjamin kemampuan ini. Sebaliknya, kompetensi bawaan dan motif jauh lebih sulit untuk dikenali dan dikembangkan.
Dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, E. Mulyasa menyoroti tentang aspek perbedaan dan karakteristik peserta didik. Dikemukakannya, bahwa sedikitnya terdapat lima perbedaan dan karakteristik peserta didik yang perlu diperhatikan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi, yaitu : (1) perbedaan tingkat kecerdasan; (2) perbedaan kreativitas; (3) perbedaan cacat fisik; (4) kebutuhan peserta didik; dan (5) pertumbuhan dan perkembangan kognitif.
3.      Sosial-Budaya
Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita maklumi bahwa pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat.
Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.
Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan muncul manusia – manusia yang menjadi terasing dari lingkungan masyarakatnya, tetapi justru melalui pendidikan diharapkan dapat lebih mengerti dan mampu membangun kehidupan masyakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat.
Setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem-sosial budaya tersendiri yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat. Salah satu aspek penting dalam sistem sosial budaya adalah tatanan nilai-nilai yang mengatur cara berkehidupan dan berperilaku para warga masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama, budaya, politik atau segi-segi kehidupan lainnya.
Sejalan dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga turut berkembang sehingga menuntut setiap warga masyarakat untuk melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap tuntutan perkembangan yang terjadi di sekitar masyarakat.
Melalui pendidikan manusia mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban sekarang dan membuat peradaban masa yang akan datang. Dengan demikian, kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnya mempertimbangkan, merespons dan berlandaskan pada perkembangan sosial – budaya dalam suatu masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional maupun global.
4.    Politik
Wiles Bondi dalam bukunya `Curriculum Development: A Guide to Practice’ turut menjelaskan pengaruh politik dalam pembentukan dan pengembangan kurikulum. Hal ini jelas menunjukkkan bahwa pengembangan kurikulum dipengaruhi oleh proses politik, kerana setiap kali tampuk pimpinan sesebuah negara itu bertukar, maka setiap kali itulah kurikulum pendidikan berubah.
5.      Pembangunan Negara dan Perkembangan Dunia
Pengembangan kurikulum juga dipengaruhi oleh faktor pembangunan negara dan perkembangan dunia. Negara yang ingin maju dan membangun tidak seharusnya mempunyai kurikulum yang statis. Oleh karena itu kurikulum harus diubah sesuai dengan perkembangan zaman dan kemajuan sains dan teknologi.
Kenyataan tersebut jelas menunjukkan bahwa perkembangan teknologi telah membawa perubahan yang pesat pada kehidupan manusia di muka bumi ini. Oleh karena itu pengembangan kurikulum haruslah sejajar dengan pembangunan negara dan dunia. Kandungan kurikulum pendidikan perlu menitikberatkan pada mata pelajaran sains dan kemahiran teknik atau vokasional kerana tenaga kerja yang mahir diperlukan dalam zaman yang berteknologi dan canggih ini.
Namun terkadang kurikulum yang ada di suatu Negara tidak sesuai dengan kenyataan perkembangan teknologi dan sosial politik di masyarakatnya. Sehingga ketika seseorang yang baru masuk dalam dunia pendidikan akan berfikair bahwa untuk membentuk suatu sistem pendidikan yang baik haruslah merubah kurikulum yang ada. Padahal hal itu sangat sulit. Sehingga yang biasa dilakukan hanyalah melanjutkan kurikulum yang ada sebelumnya namun dengan cover yang baru
6.      Ilmu dan Teknologi (IPTEK)
Pada awalnya, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia masih relatif sederhana, namun sejak abad pertengahan mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai penemuan teori-teori baru terus berlangsung hingga saat ini dan dipastikan kedepannya akan terus semakin berkembang.
Akal manusia telah mampu menjangkau hal-hal yang sebelumnya merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Pada jaman dahulu kala, mungkin orang akan menganggap mustahil kalau manusia bisa menginjakkan kaki di bulan, tetapi berkat kemajuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada pertengahan abad ke-20, pesawat Apollo berhasil mendarat di Bulan dan Neil Amstrong merupakan orang pertama yang berhasil menginjakkan kaki di Bulan.
Kemajuan cepat dunia dalam bidang informasi dan teknologi dalam dua dasa warsa terakhir telah berpengaruh pada peradaban manusia melebihi jangkauan pemikiran manusia sebelumnya. Pengaruh ini terlihat pada pergeseran tatanan sosial, ekonomi dan politik yang memerlukan keseimbangan baru antara nilai-nilai, pemikiran dan cara-cara kehidupan yang berlaku pada konteks global dan lokal.
Selain itu, dalam abad pengetahuan sekarang ini, diperlukan masyarakat yang berpengetahuan melalui belajar sepanjang hayat dengan standar mutu yang tinggi. Sifat pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan canggih, sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuan meta-kognisi dan kompetensi untuk berfikir dan belajar bagaimana belajar (learning to learn) dalam mengakses, memilih dan menilai pengetahuan, serta mengatasi situasi yang ambigu dan antisipatif terhadap ketidakpastian.
Perkembangan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu, kurikulum seyogyanya dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik dapat mengimbangi dan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan dan kelangsungan hidup manusia.

Kesimpulan
Proses perkembangan kurikulum sebagai sifatnya yang sentiasa berubah turut dipengaruhi oleh faktor-faktor persekitaran yang merangsang reaksi manusia yang terlibat dalam kepentingannya serta prinsip-prinsip yang dijadikan pedoman. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum, yaitu meliputi:
1.    Pergururan Tinggi
2.    Masyarakat
3.    Sistem Nilai
4.    Filosofis
5.    Psikologis
6.    Sosial-Budaya
7.    Politik
8.    Pembangunan Negara Dan Perkembangan Dunia
9.    Ilmu dan Teknologi (IPTEK)
Sedangkan prinsip yang dijadikan dasarnya adalah sebagai berikut:
1.    Relevansi
2.    Fleksibel
3.    Kontinuitas
4.    Kepraktisan
5.    Efektifitas


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More